Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Ponsel di Jepang

Tulisan ini adalah repost dari bananaTalk. Edit: yak maap judulnya kelupaan, udah ngantuk 😄

“Flip phone masih jaman?” Oh masih kok di sini. Populer! Saya juga suka model flip ketimbang candy bar. Tapi tulisan ini ngga bahas tren model ponsel, ya 😀

Jika kamu akan datang ke Jepang dengan visa turis, atau tidak mau dan tidak berniat online selama berada di Jepang, tulisan ini tidak tepat untukmu. Ini pengalaman pribadi yang kubagikan sebagai pemegang izin tinggal sementara (foreign resident).

Kalau kamu berencana untuk berwisata, kamu bisa bawa ponsel yang dibeli/dimiliki di Indonesia, lalu bisa menyewa portable Wifi jika ingin; atau sewa ponsel jika sangat perlu untuk menelepon land line. “Free Wifi”? Saya tidak akan andalkan itu. Masih sedikit.

Perlukah beli ponsel Jepang?

Tergantung keadaanmu. Berikut ini beberapa skenario mengapa kamu perlu membeli ponsel Jepang:

  1. Ingin beli ponsel baru. Ya udah lah ya…
  2. Ponsel yang dimiliki tidak dapat dipakai di Jepang (karena rusak atau frekuensi tidak cocok atau alasan lain)
  3. Tidak punya ponsel atau ponselmu hilang
  4. Akan tinggal lama di Jepang (di atas 2 tahun)

Skenario 1 berdasarkan ‘pengen’. Kalau sudah ingin ya sudah. Beli.

Skenario 2 memerlukan pemeriksaan sebelum berangkat apakah ponsel yang digunakan saat ini bisa dipakai di Jepang.  Untuk tahu apakah ponsel kamu bisa dipakai di jaringan LTE/4G Jepang, kamu bisa mulai dari sini. Kalau tidak bisa, tinggalkan ponsel di Indonesia, kecuali kamu mau pakai layanan suara (voice call) menggunakan international roaming.

Jika ponselmu dapat dipakai di jaringan layanan seluler Jepang dan tidak ingin beli ponsel baru

universal-adapter

Image from ATiC, Amazon Japan

Kalau ponselmu bisa dipakai di jaringan seluler Jepang, silakan bawa dengan risiko sendiri (maksudnya, saya tidak memberi jaminan apa-apa, ya).

Bawa serta charger dan adaptor

Power plug adapter untuk Indonesia ke Jepang bisa dilihat di sini. Di gambar sebelah kiri ini, colokan Jepang adalah yang di unit sebelah kanan; berkaki dua, pipih dan tegak lurus.

Toko-toko besar di Indonesia menyediakan adaptor yang bisa dipakai di negara-negara besar di dunia. Ada pula yang universal, berupa gabungan dari banyak model untuk banyak negara. Pastikan Jepang termasuk di daftar kegunaan. Tidak berarti di Jepang tidak dijual plug adapter, sih. Tapi daripada kamu habiskan waktu dan dana tambahan untuk mencari plug adapter (yang kalau dikonversi ya lebih mahal jika beli di Jepang daripada di Indonesia), sebaiknya bawa saja. Barangkali butuh segera ketika sampai.

Setel SIM card kamu untuk roaming internasional

Lakukan ini sebelum berangkat. Ada yang harus hubungi operator, ada pula yang tidak/otomatis bisa. Walaupun kartu SIM dapat digunakan untuk roaming internasional, namun kalau setelan ‘roaming’ ponsel kamu dimatikan, kamu tidak akan kena biaya roaming, kok. Jangan khawatir. Jadi pastikan pilihan international data roaming di ponsel dimatikan dulu sebelum kamu naik pesawat.

Jika punya kartu kredit, aktifkan untuk pemakaian di luar negeri

Begitu pula dengan kartu kredit. Ada yang bisa langsung pakai, ada pula yang harus kabari bank (atau kartu akan diblokir karena terdeteksi dipakai di luar negeri). Biasanya proses ini gratis walau butuh otorisasi bahwa yang mengajukan permohonan ini benar pemegang kartu kredit dengan nama yang sama.

Kenapa ini penting? Selain bersiap saja untuk darurat, juga bisa sebagai pilihan pembayaran tagihan ponsel. Pemakaian kartu kredit di luar negara penerbit kadang ditandai sebagai usaha penipuan sehingga kartu dapat diblokir otomatis oleh bank penerbitnya. Ini akan menyulitkan jika kamu ada kebutuhan genting dan mendesak saat tidak ada uang tunai atau transaksi mengharuskan kamu menggunakan kartu kredit.

Nomor Jepang atau tetap nomor Indonesia?

Saat baru sampai, kamu akan harus mengurus residence card, asuransi kesehatan, My Number dan buku tabungan. Sebelum ini semua ada, kamu tidak bisa membeli kartu SIM Jepang. Bersabar.

Jika ingin kabari keluarga di Indonesia, kamu bisa cari WiFi gratis atau warnet atau nebeng teman yang punya akses internet; atau ya sementara SMS atau gunakan fasilitas data roaming menggunakan kartu SIM Indonesia. Mahal? Ya jangan dipakai untuk mengobrol, itu bisa nanti. Yang penting keluarga tahu kamu sudah sampai dengan selamat.

Jika visa kamu bukan turis, kamu tidak diperbolehkan untuk membeli kartu SIM berbasis data service untuk turis. Kamu akan diminta untuk perlihatkan paspor, walaupun kamu tidak keluarkan residence card sebagai tanda pengenal.

Tidak ingin menggunakan kartu kredit untuk pembayaran layanan seluler

Jika kamu tidak memiliki atau memakai kartu kredit, maka kamu tetap pakai nomor Indonesia. Bagaimanapun ponsel akan butuh kartu SIM untuk dapat digunakan. Pastikan nomor ini akan terus aktif. Bila kartu SIM kamu jenis prabayar, isi ulang sebelum tenggat waktu pemakaian habis. Pasang alarm/pengingat di ponsel kapan kamu harus bayar. Dengan ponsel dan nomor Indonesia, kamu tetap bisa online dengan mengandalkan WiFi gratis di kampus, stasiun, kereta atau convenience store (konbini). Ada kok teman-teman saya yang mengandalkan cara ini dari negara lain juga.

img_4787

Kid’s phone Docomo

Kalau mau menelepon atau ditelepon bagaimana? Kamu bisa menelepon via SNS (social network system) dengan menggunakan layanan data. Betul, cari WiFi. Kamu bisa gunakan WhatsApp, Line (paling populer di sini), Facebook Messenger atau FaceTime jika kamu pakai gawai Apple.

Pilihan ini menyulitkan jika kamu harus mencantumkan nomor telepon (misalnya untuk pekerjaan paruh waktu) dan harus ada nomor ponsel. Tentunya pihak menelepon tidak mau membayar biaya roaming, kamu juga tidak. Sebagai jalan keluar, kamu bisa ‘nebeng’ nomor ponsel tutor atau orang lain. Pastikan mereka tidak keberatan untuk menerima panggilan telepon yang ditujukan ke kamu. Tidak pasti ditelepon juga, tapi jika untuk pekerjaan paruh waktu, kamu PASTI ditelepon.

Gunakan kartu kredit untuk layanan seluler tanpa bundling ponsel

Tetap menggunakan ponsel Indonesia dengan nomor Jepang adalah pilihan yang saya pakai di bulan-bulan awal tinggal di Jepang. Saya gunakan layanan b-mobile yang menggunakan jaringan NTT Docomo. Layanan ini menyediakan akses data tak terbatas kuota (berbatas kecepatan) dengan beberapa pilihan paket. Mulai dari yang paling murah saja dulu, jika pola pemakaian sudah ketemu (misalnya hanya gunakan data tanpa voice call, matikan/minimalkan saja layanan voice call, dengan catatan yang berlaku), baru sesuaikan.

Pengaturan layanan b-mobile berbasis online. Semua komunikasi dengan penyedia layanan dapat dilakukan via website, email atau panggilan telepon, sedangkan kartu SIM dikirim ke alamat yang kita daftarkan. b-mobile ini juga berbasis kontrak, minimal 6 bulan. Jadi kamu tidak bisa berhenti sebelum 6 bulan kecuali kena penalti. Dan karena langganan juga, walaupun tidak kamu pakai, kamu akan dikenai biaya bulanan yang ditarik langsung dari kartu kredit kamu.

Saran: perhatikan baik-baik terms and condition. Juga tanggal penagihan (billing). Jika kamu akan melakukan perubahan atau penghentian layanan, pastikan sebelum jatuh tanggal billing, atau kamu akan tetap dikenai biaya bulan depannya.

Beli ponsel baru

Ini pilihan umum bagi skenario 3 dan 4 yang disebutkan di awal. Kalau tidak bawa ponsel ke Jepang, jelas. Tapi mengapa jika tinggal lebih dari 2 tahun juga ke pilihan ini? Bundling.

Beli ponsel tanpa menyicil

Pilihan beli ponsel tunai (atau dengan kartu kredit) tanpa cicilan bulanan juga bisa. Pembelian dapat dilakukan di gerai penyedia layanan seluler atau di toko merk tersebut, online atau langsung datang. Dengan pilihan ini, beban bulananmu hanya biaya langganan layanan seluler tanpa cicilan ponsel. Beli bekas pun bisa, di toko elektronik atau thrift shop. Teman saya beruntung dapat promo terbatas, iPhone 6 seharga ¥45,000 (saat itu iPhone 6s baru keluar). Jadi selain jeli, hoki juga punya peranan.

Jika kamu pilih ini, pemutusan layanan menjelang kepulangan ke Indonesia (atau pindah ke negara lain) tidak sulit. Asalkan sebelum tanggal penagihan, bisa dihentikan bulan itu juga.

Bundling ponsel dan layanan seluler

Sistem bundling ini biasanya dikemas dalam promo yang cukup menarik: ponsel keluaran terbaru dengan keringanan cicilan bulanan. Dilihat sekilas, bedanya jauh dengan harga ponsel yang sama di Indonesia. Yang berbeda: harga paket data. Di Jepang mahal. Jadi sebetulnya kalau biaya data dijadikan kompensasi harga ponsel yang ‘diturunkan’, tidak jauh berbeda. Ya memang sih, kecepatan datanya menyenangkan hehe… menonton video tanpa buffering. Bahaya kalau punya kuota kecil. Setiap kelebihan 1GB pembulatan ke atas, biayanya sekitar ¥1,000 (saya gunakan Docomo).

Oh ya. Ada saat-saat promo penting. Misalnya paket data 20 GB seharga ¥6,000 yang saya tahu dari teman (langsung upgrade saat itu). Kalau kamu tidak pakai data sebanyak ini, mubazir bayar ¥1,000 lebih mahal. Tapi jika kamu suka nonton video, main game online, atau apapun yang mengandalkan LTE ketimbang WiFi, paket ini sangat melegakan.

Jika akan membeli ponsel baru dengan bundling, saya sarankan, jika tidak punya kemampuan bahasa Jepang minimal level N2, minta temani yang fasih berbahasa Jepang atau minta bantuan penerjemah. Serius. Daripada kamu salah pilih atau tidak mengerti detil kontrak. Ujungnya duit. Sedangkan kalau sudah tandatangan kontrak ya sudah, berlaku selama waktu yang ditentukan. Umumnya 2 tahun. Jadi kalau visa tinggal kamu di bawah itu, mereka akan menolak. Tapi teman-teman ada yang bisa mengakses kontrak 1 tahun, jadi mungkin bisa dicoba.

Ini pilihan yang saya ambil ketika iPhone 4s yang saya bawa dari Indonesia ngos-ngosan diajak ‘lari’ di jaringan LTE, selain kapasitas dan fitur kamera (iya, saya suka memotret tapi ngga punya kamera haha… ). Ponsel baru, cicilan 24 bulan, paket data 5 GB, minimum voice call. Tagihan per bulan sekitar ¥10,000, pilihan bayar menggunakan auto debit dari rekening bank Yucho. Mahal? Layanan seluler tanpa cicilan ponsel sudah sekitar ¥5,000. Lalu asuransi dan pajak. Jadi ya… begitulah.

Jika pulang/meninggalkan Jepang sebelum kontrak bundling habis
  1. Lunasi sisa cicilan ponsel plus penalti pembatalan kontrak. Kalau sisa 2-3 bulan sih, OK. Kalau sisanya masih di atas 6 bulan, terasa sekali bayar sekaligusnya. Jadi persiapkan dananya baik-baik.
  2. (Jika belum) alihkan metode pembayaran ke kartu kredit yang berlaku internasional. Saat kamu pulang, cicilan ponsel akan ditagih dan berjalan sesuai sisa jangka kontrak. Enaknya sih tidak harus bayar sekaligus. Tidak enaknya ya pulang bawa utang cicilan. Apalagi kalau terjadi lonjakan kurs naik. Silakan dipertimbangkan.

Tulisan ini tentu disertai dengan ‘syarat dan kondisi berlaku’ di banyak bagian, terutama karena pihak penyedia layanan seluler dapat mengganti kebijakan. Karena itu jangan luput untuk membaca dan bertanya dengan detil. Lebih baik cerewet daripada menyesal.

Bacaan lain:

Advertisements

About Lita

A mother wondering if she's good enough for her children. A wonderer who is often hesitate to travel.

One comment on “Ponsel di Jepang

  1. admin
    January 23, 2017

    nice article 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2017 by in Lita Mariana, Pengalaman Sehari-hari, Tips and 'how to' and tagged , , , .
TT 2015 Returning HomeMarch 25th, 2017
Makan, school visit, zemi, jalan-jalan... sebentar lagi laporan akhir lalu pulang! T_T
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: