Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Terbangnya `Burung Biru Bahagia` di Perayaan Gaigosai ke-92 Tokyo University Of Foreign Studies

Agora Global, Tokyo University of Foreign Studies, Fuchu, 24 November 2014- Jam dinding menunjukkan pukul 14.00. Ratusan orang memadati Gedung Purometeus Hall untuk menyaksikan Drama berbahasa Indonesia `Burung Biru Bahagia` (Shiawase no Aoi Tori) yang dibawakan oleh tim drama Jurusan Bahasa Indonesia. Mereka adalah delapan belas mahasiswa tahun kedua jurusan bahasa Indonesia kampus ini. Drama Burung Biru Bahagia merupakan satu di antara serangkaian pertunjukan drama yang dibawakan mahasiswa TUFS untuk memeriahkan Festival Bahasa Asing ke-92 di Tokyo University of Foreign Studies atau yang dikenal dengan sebutan Tokyo Gaikokugo Daigaku tersebut.

Mulanya ada rasa sungkan dan tak percaya bahwa orang-orang Indonesia yang berada di Jepang, khususnya yang berdomisili di sekitar Tokyo, sudi mampir ke TUFS hanya untuk sekadar menyaksikan drama satu babak berdurasi 60 menit yang dibawakan oleh mahasiswa Jurusan Bahasa Jepang TUFS ini. Namun, setelah masuk dan melihat sendiri, saya takjub karena ternyata ada cukup banyak orang Indonesia, baik mahasiswa maupun karyawan, yang menyempatkan diri untuk datang dan menyaksikan bahasa Indonesia, bahasa nasionalnya, dibawakan dalam drama di panggung orang Jepang. Kenyataan itu memunculkan suatu kebanggaan tersendiri dalam hati saya.

Hal yang agak mengagetkan lagi adalah ternyata ada pula seorang guru sekaligus pendiri sebuah sekolah swasta di Indonesia yang menjadwalkan kegiatan Gaigosai ini sebagai salah satu agenda studi tur tahunan di sekolahnya. Beliau mengajak serta seorang guru dan tiga belas siswa-siswinya untuk mampir ke acara tersebut. Tak hanya itu, beberapa alumni bahasa Indonesia TUFS dan seorang karyawan Jepang yang pernah menempuh pendidikan di Indonesia sengaja berkumpul untuk melakukan reuni dan bertemu dengan teman atau kerabat yang mengenal Indonesia dan tertarik dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut sungguh di luar dugaan saya.

Kembali berbicara tentang drama Burung Biru Bahagia. Drama yang diadaptasi dari cerita Prancis ini bercerita tentang dua kakak beradik, Tyltyl dan Mytyl, yang dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek penyihir ke dalam kamar mereka. Kakek penyihir itu meminta mereka untuk mencari seekor burung biru untuk memberikan kebahagiaan kepadanya. Untuk menemukan burung biru tersebut, mereka harus pergi ke negeri antah berantah yang disebut negeri Kenangan.

Sebelum pergi mencari sang burung biru, kakek penyihir membekali mereka dengan kalung permata yang bila diputar, mereka dapat pergi ke dimensi yang berbeda. Tak hanya itu, berkat sihir dari si kakek penyihir tersebut, seluruh benda yang berada di sekeliling Tyltyl dan Mytyl berubah menjadi makhluk hidup. Mereka adalah Cahaya, Kucing, Anjing, Beras, Api, dan Gula.

Rintangan demi rintangan dijalani oleh kedua kakak beradik Tyltyl dan Mytyl ini dengan penuh kesabaran dan bahu-membahu. Tak disangka, ada pula pikiran jahat sang Kucing yang tak senang bila nanti kedua saudara itu menemukan sang burung biru. Dia membujuk Ibu Malam untuk memberikan burung biru yang palsu kepada kedanya. Untung saja, kejahatan sang kucing segera terbongkar.

Meskipun pada akhirnya Tyltyl dan Mytyl menemukan burung biru, tetapi burung biru itu tak pernah bisa hidup di dalam sangkar. Kalaupun burung tersebut dapat hidup, warna sayap burung itu akan berubah menjadi hitam. Tyltyl dan Mytyl menyadari bahwa burung biru hanya akan hidup bila ia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan saat bertemu dengan Nenek dan Kakek, bertemu dengan Ayah dan Ibu, dan saat melihat orang lain bahagia.

   Inti dari drama Burung Biru Bahagia ini adalah bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu hal yang dicari, tetapi disyukuri. Untuk dapat menjadi orang yang berbahagia, kita tak harus memiliki sesuatu. Dengan memberikan sesuatu yang kita sayangi dan membuat orang lain bahagia, itu juga merupakan sebuah bentuk kebahagiaan.

Meskipun ada beberapa pengucapan kata yang masih terkontaminasi dialek bahasa Jepang, keberanian dan kemampuan akting mahasiswa tingkat dua jurusan bahasa Indonesia TUFS atau yang dikenal dengan julukan Gaidai ini patut diacungi jempol. Di bawah bimbingan Profesor Bahasa Indonesia TUFS, Bapak Furihata Masashi, beserta Dosen Indonesia, Bapak Umar dan Ibu Erika, mereka sudah berusaha keras membawakan drama tersebut dengan baik dan tersampaikan secara alami, tanpa dipaksakan. Kiranya ini dapat menjadi oleh-oleh berharga bagi pelajar di Indonesia bahwa melalui drama, bahasa Indonesia dapat berkembang di luar negeri. Pun, bahasa Indonesia dapat menjadi kebanggaan negeri pertiwi.

Pementasan drama berbahasa Indonesia yang dibawakan oleh mahasiswa Jepang di Jurusan Bahasa Indonesia di TUFS ini adalah kegiatan rutin setiap tahun yang diselenggarakan TUFS di bawah bendera Festival Bahasa Asing atau yang disingkat dalam bahasa Jepang menjadi Gaigosai. Kegiatan akbar ini melibatkan hampir 27 jurusan bahasa asing di universitas tersebut, termasuk bahasa Indonesia.

   Antusiasme masyarakat Tokyo dalam menyambut Gaigosai ini pun sangat luar biasa. Hal tersebut tak lepas dari gencarnya promosi dan berbagai sarana yang ditawarkan lewat media sosial, baik website maupun facebook. Alhasil, hampir setiap hari kegiatan berbagai seminar kecil bahasa asing, seperti bahasa China, Korea, Rusia, dan Prancis serta berbagai macam stand masakan asing, seperti masakan Indonesia, Malaysia, Turki, dan Kazak-Uzbeskistan dipadati pengunjung yang datang dari berbagai tempat. Yang lebih menghebohkan lagi adalah festival ini pun diliput oleh NHK dan Fuji Terebi.

Dina Ardianti, Peserta Teacher Training Program Monbukagakusho

di TUFS, November 2014

About tina triwijianti sandriputri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2015 by in Jadi Duta Budaya and tagged , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: