Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

It is MORE than TEACHER training

Its been 4 months since i arrived in Akita, Japan.

Masih keinget dulu sama awal-awal tes, sempat hampiiirrr batal ke Jepang. Sehari sebelum tes interview, anak saya sakit. Panas tinggi sampai 40 derajat, jadi sebagai ibu rasanya berat sekali memutuskan untuk berangkat interview dan meninggalkan anak saya. Jam 10 malam, saya bicara dengan suami dan saya menyatakan untuk tidak ikut tes tahap selanjutnya. Selain karena anak saya sakit, kondisi badan saya juga saat itu drop karena beberapa hari bergadang untuk menemani si kecil yang sakit. Sama sekali bukan dongeng atau fiktif, tapi malam itu saya mimpi, ada yang bilang ke saya, “kenapa kamu menyerah?? sementara ratusan orang berjuang untuk mendapatkan kesempatan ini, dan kamu sudah sejauh ini tiba-tiba memutuskan untuk mundur?”. Saya terbangun dan cuma bisa berdoa. Saya lihat jam sudah jam 6.45, saya langsung cek kondisi anak saya, dan puji Tuhan panasnya turun. Saya langsung bangunin suami, dan suami langsung kasih saya semangat untuk ikut interview. Dengan terburu-buru (karena peserta interview harus datang jam 8.30, sementara rumah saya di Kalimalang, Bekasi yang macetnya ampun-ampun) saya diantar suami naik motor, sambil harap-harap cemas apakah waktunya cukup untuk sampai tepat waktu di kedubes.

Sekali lagi, puji Tuhan saya sampai di kedubes tepat jam 8.30, dengan rambut berantakan, baju lecek, dan tanpa make up. Saya lari ke lantai dua dan langsung duduk di sebelah Maria.. (aduh Maria semoga kamu masih ingat ini hahaha) Tanpa malu-malu saya langsung memakai sedikit make up yang sangat minimalis sambil menahan tubuh untuk tetap kuat. Saya baru sadar, saya tidak sempat sarapan, tidak sempat minum, apalagi minum obat.. Sebelum interview, kami diminta mengerjakan soal bahasa Jepang sebagai pengisi waktu. Eng ing ennnggg saat itu juga badan mulai keringat dingin, menggigil dan pusing tujuh keliling (bukan karena tesnya, tapi memang karena kondisi tubuh yang saat itu lagi bener-bener ga oke). Saya panik, minta tolong mba Olga (Bag. pendidikan kedubes Jepang) untuk mematikan AC, tapi sepertinya tidak mungkin karena ACnya sentral (hiks…) Saya langsung ke kamar mandi, dan cuma bisa jongkok sambil berdoa di dalam kamar mandi..(jongkoknya bukan di WC yaaa). Sekali lagi, puji Tuhan. Beberapa teman yang saat itu belum saya kenal, rupanya menyadari kalau saya tidak sehat. Datanglah seorang malaikat berwujud Osi, menawarkan obat sebagai penahan rasa sakit. Waktu itu saya yakin, Osi pasti juga mikir nih cewek absurd banget hahaha, mau tes tapi semrawut hihihi bener ga ya Os? Lalu saya bingung gimana cara minum obatnya karena saya juga ga bawa minum, datang lagi seorang malaikat berwujud Tria yang memberi saya air minum. Luar biasa, padahal saat itu kami belum kenal, kalau dibilang mereka itu sebetulnya kan saingan saya ya hihihi. Tapi ya itu, Tuhan bisa pakai siapa saja untuk jadi malaikatNya. Saat menunggu panggilan, di dalam ruang tunggu, saya ingat mas Sigit membantu saya ngecilin AC dalam ruangan supaya saya ga menggigil. Lalu saya, Tria, mas Sigit, dan mas Yudha ngobrol banyak sampai saya lupa sama sakit saya sesaat sebelum kami masuk ruang interview (kebetulan kami kloter terakhir saat itu). Saya pulang di temani Osi, kami makan di Mc Donald hahaha (masakan terenak saat itu karena perut udah keroncongan banget).

Sekali lagi, puji Tuhan. Akhirnya saya, dan juga teman-teman yang namanya semua saya sebut di atas lolos. Kami dapat kesempatan ini, belajar dan menjalani kehidupan di Jepang. Sebetulnya kalau saya mau cerita selengkapnya tentang proses didapatnya beasiswa ini, panjaaang sekali. Banyak tantangan, omongan orang, suka dan duka, sampai saat-saat terberat dimana saya harus meninggalkan buah hatiku untuk sementara waktu. Tapi apakah itu semua worth it? Kalau saya mau jawab jujur, it was and it is TOTALLY WORTH IT. i can never imagining my life would be so LIVE like this before.

Awalnya saya pikir yang namanya Teacher Training Program itu, kita bakal duduk di kelas belajar tentang bagaimana metode pendidikan, kurikulum, materi, loyalitas guru, efektifitas KBM, penilaian, RPP, dsb dsb dsb.. Well i guess i was wrong hehe. Walaupun sebetulnya penelitian saya belum dimulai, tapi dalam 4 bulan pertama sudah banyaaaakkkkkk sekali yang saya dapatkan, bukan semata-mata tentang sekolah atau pendidikan atau cara mengajar, tapi lebih kepada KEHIDUPAN. Hidup yang bermajemuk, mengenal karakter orang yang bukan hanya beda negara, tapi juga beda usia, beda kepercayaan, beda prinsip, dan banyak perbedaan lainnya. Dimulai dari mengenal karakter setiap peserta Teacher Training 2014 (yang sekarang udah tersebar dimana-mana di seluruh Jepang), sampai mengenal karakter orang-orang yang ada di sekitar saya di Akita (dari dosen, host family, temen-temen, sampai orang-orang yang saya ga kenal sekalipun). Saya berkesempatan mengenal secara langsung kebudayaan yang jelas-jelas berbeda dengan yang biasa saya hadapi.

Saya rasa teman-teman TT lain juga tau, ada kala di saat-saat kita merasa kesepian, rindu rumah, rindu dengan kekeluargaan yang biasa kita rasakan, rindu makanan (colek Izul :p) dan rindu yang lainnya… but Come on, we are in Japan now.. hihihi sedihnya ga akan lama-lama, semakin banyak kita menyerap ilmu yang kita dapat dalam kehidupan kita di Jepang, maka kita juga akan siap menjadi orang yang lebih baik ke depannya, terutama saat kita kembali ke sekolah, kembali mengajar, kembali ke panggilan hati kita.

This program is TEACHER training program, but for me its more than that, it is a LIFE training program.

Buat kamu yang lagi berusaha cari-cari tau atau ragu dengan program TT ini, jangan ragu-ragu lagi deh. Dijamin kalau ini worth it to try.

Much love,

Tina Triwijianti

TT 2014.

About tina triwijianti sandriputri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 16, 2015 by in Ideas and Thoughts and tagged , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: