Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

“Why not? As long as I can, I will….”

DSC_0479Dengan aksen British yang kental, Sensei Watanabe meminta satu demi satu anak di depannya mengucapkan kata yang beliau ucapkan. Walaupun tidak semua mengulangi dengan tepat, namun kata – kata pujian tidak pernah lupa beliau berikan untuk semua anak sebelum memberikan pembetulan. Sesekali anak – anak itu tersenyum mendengar banyolan sang Sensei dalam Bahasa Jepang yang gagal aku pahami. Baru ngeh belakangan setelah bertanya kenapa anak – anak pada ketawa. Aku masih terpana oleh kharisma sang Sensei, sehingga tergagap – gagap ketika beliau memintaku maju dan menceritakan tentang Indonesia. Dengan sabar, beliau menerjemahkan ke Bahasa Jepang, kalimatku yang kira – kira belum di pahami anak – anak muridnya. Kekagumanku pada Sensei Watanabe bertambah ketika setelah sesi kelas selesai aku berbincang – bincang dengan beliau.

Hari itu bersama Host Family, aku diundang untuk datang ke acara bounenkai, semacam pesta tutup tahun yang diadakan oleh kelas Bahasa Inggris yang diampu Sensei Watanabe. Dari Host Family, aku tahu bahwa kelas Bahasa Inggris ini diperuntukkan bagi anak – anak yang mau menambah porsi belajar Bahasa Inggris mereka di luar sekolah. Dan, gratis. Apa? Iya, ternyata Senesei Watanabe yang telah berumur lebih dari 67 tahun ini tidak memungut bayaran apapun. Bahkan beliau sering nombok untuk sekedar fotokopi materi atau membeli snack – snack ringan sebagai hadiah. Rupanya itu adalah salah satu bentuk Community Service yang banyak diprakarsai oleh generasi senior. Ketika kutanya apakah tidak lebih enak diam di rumah, dengan penuh senyum beliau menjawab “Why not? As long as I can, I will….”. Belum habis kekagumanku, beliau bertanya “How about you? “Do you give tutorial outside the school? Aku tergagap gagap. Tentu saja, memberi pelajaran tambahan adalah keharusan. Namun kalau tidak dibayar? Hemmmm……Beliau manggut – manggut mencoba mencerna jawabanku yang amburadul. Jika beliau yang sudah dalam usia lanjut, tetap mau keluar dari zona nyamannya, dan menyumbangkan sesuatu untuk masyarakat. Bagaimana dengan aku?

Namun, ketika kuingat – ingat kembali, aku tidak jarang terheran – heran melihat kakek – kakek yang masih begitu gesit mengomando masuk keluarnya mobil di area parkiran pusat perbelanjaan. Atau, nenek – nenek yang walau terlihat kepayahan, setiap pagi kadang – kadang sebelum aku bangun, sudah membersihkan dapur asrama yang pasti berantakan beserta sampah – sampah nya.

Sensei Watanabe, nenek pembersih asrama, dan kakek di pusat perbelanjaan, hanya sebagian kecil contoh dari warga senior di Jepang yang hanya karena bertambahnya umur, menolak untuk berdiam diri. Mereka akan menggunakan sekuat tenaga yang mereka punya untuk terus berkarya. Kalimat ini sederhana, namun di dalamnya tersimpan sebuah modal budaya yang luar biasa . “Why not, as long as I can…I will…

2 comments on ““Why not? As long as I can, I will….”

  1. lila
    October 23, 2015

    Mas anjas bisa minta tautan link contoh essay dan soal bahasa inggrisnya? terimakasih

  2. Kang Ash
    January 20, 2015

    semangat ya kang… ditunggu terus tulisan-tulisannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: