Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Lomba pidato Bahasa Jepang Internasional

Hari ini adalah hari peringatan pernikahanku, yang ke-7 tahun.

Hari minggu lalu, tanggal 13 Juli pukul 8 pagi, aku berangkat ke Nagoya. Sebelum berangkat, aku meminta doa kepada suami dan anak-anakku, agar bisa menampilkan performance terbaikku.

Aku mengikuti lomba pidato Bahasa Jepang tingkat Aichi prefecture yang diadakan oleh organisasi pemberdayaan perempuan, WFWP (Women’s Federation for World Peace).

Sesuai nama organisasinya, peserta lomba adalah mahasiswi asing dari berbagai negara yang belajar di wilayah Aichi. Dari sekian puluh peserta, tersaring 9 peserta yang tampil di podium. Alhamdulillah, aku termasuk satu di antaranya. Peserta lain adalah yang berasal dari Vietnam, Mongolia, China, Korea, Perancis, Uzbekistan dll. Peserta terbaik pertama, akan mewakili tiap prefecture, untuk mengikuti lomba tingkat nasional di Tokyo, pada bulan Agustus.

Sejak dihubungi salah satu volunteer panitia via telpon, sekitar bulan April, aku tidak seberapa berminat untuk berpartisipasi. Ya, hal ini dikarenakan kesibukan di kampus dan urusan rumah tangga serta anak-anak. Waktu itu, aku tidak membayangkan, kapan aku membuat naskah, menghafalkan dan berlatih pidato. Bahkan, setelah menerima form pendaftaran, aku sempat memutuskan untuk tidakjadi ikut.

Namun, suamiku berkata lain, “Abi yakin, umi bisa. Umi ikut saja, ini kesempatan. Kalau di Indonesia, umi ga punya kesempatan ikutan lomba pidato. Ini akan jadi pengalaman dan kenangan yang bermanfaat untuk umi.”

Dari sinilah, H-minus 7 sebelum penutupan pendaftaran, aku memutuskan untuk ikut. Langsung kukirim form pendaftaran beserta surat keterangan bahwa aku benar-benar mahasiswa di Aichi Univ of Edu, lengkap dengan foto dan naskah pidato, yang kubuat kilat dalam 2 hari.

Awalnya, aku bingung mau pidato tentang apa. Panitia hanya memberikan 3 tema besar :

  1. Kehidupan sebagai mahasiswa asing di Jepang
  2. Negara Jepang dan Negeraku
  3. Peranku untuk perdamaian dunia

Setelah mendapat suntikan semangat suami, langsung saja terpikir untuk menuliskan rasa terimakasihku kepada suami. Suami yang rela meninggalkan perusahaannya untuk sementara waktu, menemaniku tinggal di Jepang. Aku mengambil tema yang no.1, bagaimana kehidupanku sebagai mahasiswa di jepang, sebelum dan sesudah kedatangan suami dan anak-anakku ke Jepang.

Naskah ini kutulis spontanitas, perasaanku kala itu. Tanpa research terlebih dahulu. Aku bahkan tidak meng-cek organisasi apa yang mengadakan lomba ini. Setelah aku menerima surat pemberitahuan bahwa naskahku lolos, H-minus 10 sebelum pelaksanaan lomba, barulah aku tahu bahwa misi dan visi organisasi WFWP adalah untuk perdamaian dunia.

Sedangkan naskahku, jauh dari visi dan misi organisasi itu. Rasa pesimis itu pun muncul. Namun, kuingat kembali, bahwa niatan awalku mengikuti lomba ini adalah sebagai ungkapan perasaanku atas kebesaran hati suami dan keluargaku. Atas semua dukungan mereka selama ini. So, aku tetap berusaha memberikan penampilan terbaikku.

Untuk itu, aku banyak meminta saran kepada suami tentang gerak tubuh, nada dan tekanan suara kala pidato. Meski suamiku buta bahasa Jepang, namun dia bersedia menemaniku berlatih dan memberikan banyak masukan. Ada juga tutor bahasa Jepang dan sensei bahasa Jepangku yang membantu membetulkan naskah, supaya terlihat lebih alami. Lalu satu kali, volunteer dari panitia datang ke kampusku, untuk melihat penampilanku. Hampir sebulan aku berlatih dan berlatih, hanya untuk pidato berdurasi tak lebih dari 8 menit.

pidatoBagi orang lain, pidatoku mungkin biasa saja. Namun sangat bermakna bagiku. Pidatoku berisi tentang bagaimana seorang ibu yang tertahan kerinduannya kepada kedua buah hati di negeri lain, betapa dia sangat berterimakasih dan memberikan penghormatan yang teramat sangat kepada suaminya, yang telah memerankan dua peran penting sekaligus, bagi buah hatinya. Peran sebagai seorang ayah dan ibu. Betapa kata “terima kasih” itu tak cukup untuk menggantikan pengorbanan suaminya, yang telah mendukung kehidupannya sepenuh hati.

Ya, pidatoku kali ini, memang kutujukan kepada keluargaku, kepada suamiku dan buah hatiku. Pidato ini adalah kado untuk milad suamiku dan peringatan ulang tahun pernikahan kami yang ke-7 tahun. Sedikit lebih cepat 12 hari memang. Tapi, inilah kado yang bisa kupersembahkan untuk kebersamaan kami berdua, untuk kebahagiaan kami berempat hingga detik ini.

Hatiku bergetar, tatkala kulihat beberapa audience mengusap air mata yang hendak mengalir dari pelupuk matanya. Betapa gembira hatiku, bisa menginspirasi puluhan (ratusan?) audience. Beberapa di antaranya, menghampiriku seusai turun dari podium. Mereka menyalami tanganku, beberapa ibu-ibu bahkan memelukku erat seraya berujar “Hontou ni kandou shita yo, yori fukai hanashi wo kikasete itadaite, arigatou ne.”

pidato2Ada yang tersadar dan menyesal kenapa dulu memutuskan untuk tak memiliki anak, hingga kini kesepian di masa tuanya. Ada yang terketuk hatinya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan anak-anaknya. Ada yang berterimakasih dan tersadar, bahwa ternyata selama ini dia sangat jarang memuji segala kebaikan pasangannya.

Aku bukan ibu dan isteri yang sempurna, aku masih jauuuh dari sempurna. Namun setidaknya, aku bisa mengungkapkan segala rasa terima kasih dan hormatku kepada suami dan anak-anakku. Sebuah perasaan dari hatiku yang terdalam. Dan aku akan terus berbenah diri, menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga dan keluargaku.

Betapa aku mencintaimu suamiku.
Betapa aku sangat sayang padamu, permata hatiku.
Bahwa aku bahagia menjadi anak dari ibu dan bapak, yang tak membiarkanku menjadi anak yang manja. Berkat segala didikan merekalah, aku yang sekarang ini ada.

***

Inilah apresiasi suamiku, di webnya :

” Terima kasih istriku, aku bangga menjadi pendampingmu, aku bangga bisa menemanimu selama 7 tahun ini, aku bangga bisa menjadi ayah dari dua buah hati kita. Bagiku, sampai kapanpun, kau juara di hati ku.

You’re Amazing my love. “

About Kuma

Mantan pegawai. EO sekaligus manager di CV. Kreasi Presentasi (www.KreasiPresentasi.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: