Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Ujian wawancara calon guru di Jepang

Setiap hari senin, saya berkesempatan melihat latihan tes wawancara calon guru. Ya, 2 minggu lagi banyak prefecture yang mengadakan tes wawancara untuk merekrut guru-guru muda, yang diharapkan bisa memajukan dunia pendidikan Jepang.

Satu hal, yang menurut saya sedikit berbeda dengan perekrutan guru di indonesia. Di Indonesia, tes untuk guru umumnya dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Tes CPNS. Seingat saya, hanya ada tes tulis. Materi tesnya biasanya tentang ilmu jurusan masing-masing dan ilmu paedagogi. Tidak ada tes wawancara.

Lalu, yang berbeda lagi, ketika saya ikut wawancara kerja di perusahaan, biasanya calon pegawai akan dipanggil satu-satu. Kalau di Jepang, biasanya dipanggil satu group yang terdiri dari 4 s/d 6 orang. Sedangkan pewawancara biasanya 3 orang (bisa saja lebih).

Dari 2 kali latihan yang saya lihat, pertanyaan yang dilontarkan oleh pewawancara biasanya sama untuk semua calon guru. Jadi, ada ga enaknya ya, jika tiba giliran terakhir, sedangkan semua ide sudah dijawab oleh calon guru sebelumnya 😛

Beberapa pertanyaan yang sempat saya rekam dari latihan wawancara calon guru SD, antara lain :

  1. Sebagai wali kelas, kelas seperti apa yang ingin Anda bentuk ?
  2. Prestasi terbaik apa yang pernah Anda raih?
  3. Buku apa, yang terakhir Anda baca? (yg pasti bukan buku kuliah ya)
  4. Jika ada siswa yang susah beradaptasi di kelas, apa yang Anda lakukan?
  5. Anda ingin menjadi guru seperti apa?
  6. Jika ada siswa Anda yang gagal dan merasa putus asa, tindakan apa yang Anda ambil untuk membantu siswa tersebut?

Berikut ini jawaban yang masih saya ingat :

  1. Saya ingin membentuk kelas yang penuh semangat. Bersama anak-anak, saya akan berdiskusi kegiatan pembelajaran apa yang diinginkan anak-anak. Lalu yang terpenting adalah menentukan tujuan. Jika kelas sudah punya satu tujuan bersama, maka saya yakin kelas bisa berjalan dengan baik.
  2. Saya dulu menjadi manager football. Saya yang tidak ahli sama sekali dalam berolah raga, tidak tahu apa-apa tentang football, merasa sangat tidak nyaman. Saya khawatir, saya tidak bisa melakukan peran dengan baik. Namun akhirnya saya membaca buku tentang football, menyemangati tim, dan membantu kesusahan tim. Berdasarkan pengalaman tersebut, ketika menjadi guru, juga harus mengenal kelasnya dengan baik. Saya tidak tahu, bagaimana karakter anak-anak yang akan saya ajar nanti. Saya akan berjuang keras untuk mengenal mereka lebih jauh, membantu mereka dalam belajar dan tentu saja memotivasi semangat belajar mereka.
  3. Jawaban mereka kebanyakan manfaat dan kesan dari buku yang dibaca masing-masing.
  4. Saya akan menempatkan diri sebagai patner siswa tersebut. Dengan menjadi temannya, saya berharap dia lebih terbuka kepada saya. Lalu saya akan membuat forum diskusi, lalu memasukkannya ke group yang kira-kira anak-anaknya sangat cooperatif. Selain itu, saya akan memberikannya sebuah peran di dalam kelas. Misalnya giliran menyiapkan kelas tanda pelajaran dimulai, giliran mengucapkan salam pembuka sebelum acara makan siang, dan lain sebagainya.
  5. Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya mementingkan kemampuan akademis anak-anak. Lebih dari itu, saya akan berusaha mengeksploitasi kemampuan anak-anak dalam proses belajar. Apa yang saja ajarkan sebisa mungkin harus mendekati dunia realistis anak-anak, sehingga pengetahuan atau skill yang diajarkan akan melekat pada diri anak.
  6. Saya akan memahamkannya, bahwa tidak bisa melakukan sesuatu itu bukanlah sebuah keburukan. Misalnya, tidak bisa saka-agari (memutarkan badan ke besi lompatan, kaki ke atas, dan kembali menyentuh tanah). Kalau tidak bisa saka-agari, mungkin kamu bisa melakukan gerakan bergelantung dengan tangan dan terus merambat dari ujung awal ke ujung akhir. Tidak masalah jika kita berbeda. Saya akan berusaha menaikkan percaya diri anak, bahwa dia bisa melakukan hal lain, yang mungkin tidak bisa dilakukan temannya.

Lalu, ada satu pertanyaan yang sedikit berbeda, yang dilontarkan salah satu pewawancara, yaitu berupa kasus. Pertanyaan ini ditujukan untuk semua calon guru, namun dari sisi yang berbeda-beda.

“Ada siswa bernama A dan B. Si A gagal melakukan sesuatu hal. Lalu si B mengolok-oloknya”, apakah tindakan Anda terhadap si A dan si B? Pertanyaan ini ditujukan kepada 2 calon guru yang paling cepat angkat tangan.

–> Saya akan memahamkan si B. Bahwa jika A bukanlah buruk, hanya karena tidak bisa melakukan hal tersebut. “B, kamu kan bisa melakukannya. Coba dong, kamu ajari si A.” Saya, akan berusaha mendekatkan keduanya, sehingga muncul rasa saling tolong-menolong dan menghargai sesama.

Lalu, masih kasus yang sama. “Lalu bagaimana Anda melakukan tindakan untuk seluruh warga kelas, terhadap kasus ini?” Pertanyaan ini pun untuk 2 guru berikutnya.

–> Saya akan mengajak mereka berpikir bersama. Bagaimana jika kamu menjadi A, dan diejek seperti itu. Pasti tidak enak. Dengan memahami posisi si A, saya berharap seluruh kelas justru membantu si A, agar bisa melakukan hal itu.

Yang menarik, ada pewawancara yang memberi saran seperti ini. Jawaban tersebut bagus. Tapi kalau saya, saya akan cenderung mengambil sisi positifnya. Saya tidak bertanya bagaimana perasaan anak-anak jika diolok-olok, namun saya akan bertanya, “Kata-kata atau perilaku apa yang ingin kamu dapatkan, jika kamu menjadi si A, sehingga kamu bisa senang dan bangkit lag ?” Dengan begitu, polapikir anak-anak akan terbiasa positif.

Dan yang terakhir, “Kejadiannya, si A pulang ke rumah. Lalu menceritakan kejadian di kelas (diolok-olok si B) kepada ibunya. Lalu ibu tersebut menelpon ke sekolah. Apa tindakan Anda?” Pertanyaan ini untuk 1 orang calon guru yang terakhir.

–> Pertama, saya akan menjadi pendengar yang baik, atas keluhan orang tua siswa. Lalu saya akan melakukan katei homon (kunjungan ke rumah siswa). Di situ, saya bisa berbicara langsung dengan wali murid dan si anak. Saya tidak hanya mengunjungi rumah A, tapi juga rumah si B. Saya berharap kedua wali murid ini bisa menjalin komunikasi dengan baik. Dampak akhirnya saya berharap hubungan ini pun menular kepada hubungan kedua anak tersebut, si A dan si B.

Dari saran pewawancara, secara global adalah, jika menjawab pertanyaan, usahakan jawab secara global dulu atau kesimpulannya. Lalu jabarkan ke hal-hal yang lebih detil, jadi tidak terkesan teoritis. Lalu usahakan jawaban tidak melebihi 60 detik. Karena jawaban yang terlalu panjang, sangat mungkin membuat pewawancara bosan dan susah menangkap pokok jawaban kita.

Segitu dulu ya…. sharing dari pengalaman saya melihat latihan tes wawancara calon guru di Jepang. Jika ada yang menarik lagi, Insya Allah saya share lagi. Semoga bermanfaat.

Salam Amazing

About Kuma

Mantan pegawai. EO sekaligus manager di CV. Kreasi Presentasi (www.KreasiPresentasi.com)

2 comments on “Ujian wawancara calon guru di Jepang

  1. Kang Ash
    July 22, 2014

    keren🙂

    • Kuma
      August 1, 2014

      Pak Ashari jauh lebih keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 22, 2014 by in Istikumayati, Pokoknya Cerita! and tagged , , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: