Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Kalau semua dilarang,lalu kami makan apa?

Seandainya ada survey FAMILY 100 tentang satu hal yang diidam-idamkan para mahasiswa muslim yang sekolah di Jepang maka bisa dipastikan, salah satu jawaban adalah hadirnya pedagang kaki lima yang menyodorkan makanan halal aneka rasa. Saya berani bilang begitu karena memang saya adalah saksi hidup. Saat malam dingin mencekam, duduk di depan komputer dalam ruangan lab. Saat otak sudah mati rasa mengerjakan tugas laporan penelitian, apakah kemudian kau berpikir akan menemukan sketsa lampu bohlam Thomas edison yang biasanya menggambarkan hadirnya ide-ide cemerlang dalam isi kepalamu?

“Tentu tidak, sodara-sodaraaa”

Alih-alih dalam isi kepala saya adalah sosok abang pedagang nasi goreng yang sedang membolak-balikkan racikan nasi bercambur bumbu sambel wangi mantap sambil kemudian mengolah telor dadar dan akhirnya menghias irisan acar,dua biji cabe rawit, kerupuk untuk disajikan ke saya.

MANTAP!

Otak boleh deadlock, tapi hadirnya nasi goreng memiliki hubungan dalam mendongkrak kreativitas kamu berkarya. Apapun itu meski dengan tingkat signifikansi yang amat sangat rendah.

Tapi,Ah…,di Jepang? pedagang nasi goreng keliling kampus? oh my oh my..

Tadi saya mau bahas apa siy? oh iya, makanan halal.

Saat kita tinggal di negara minoritas, urusan halal jadi isu yang krusial. Meski solusinya sederhana aja siy, kamu tinggal cek ingredients, bahan-bahan apa saja yang terkandung dalam makanan berbentuk kemasan. Menjadi tidak sederhana saat semua penjelasan sudah pasti ditulis dalam huruf kanji. Lantas, kamu kira, siapa saya? saya adalah peserta kursus dengan nilai tes bahasa jepang terendah di angkatan saya, huhuhu…

Ramen, sajian mie khas cina namun banyak digemari orang Jepang bisa dipastikan TIDAK BISA kau santap karena kuah kaldunya berasal dari ayam atau sapi yang tidak masuk kategori halal. ( Beda halnya dengan negara eropa yang biasanya penyembelihan hewan masih dibawah pengawasan orang yahudi dan nasrani-kategori hewan yang disembelih dengan nama tuhan masih bisa dikonsumsi,red )

Udon masih bisa dinikmati, karena kuahnya sebatas soyu, kecap kedelai. Asal jangan minta topping irisan daging bacon saja.

Odeng yang dijual di seven eleven, cemilan seger, HANYA DALAM MIMPI untuk engkau memakannya karena ia bercampur dengan bahan hewani.

Okonomiyaki, makanan sejenis bakwan basah, masih bisa disantap selama kau meminta agar menggunakan minyak zaitun, pan terpisah, topping sea food. Jangan lupa, order menunya menggunakan bahasa jepang.

Sushi, bisa aman, selama kamu memastikan kecap soyu nya aman tidak menggunakan mirin,atau olahan beralcohol. Meski jujur, makan sushi ga bisa sering-sering. Mahal euy..

Onigiri pun bisa aman, selama kamu memastikan ia tidak mengandung mirin.

Snack atau makanan ringan, gampang-gampang susah. Dibilang gampang, kalau sudah dapat info dari situs halal atau teman mahasiswa indonesia yang pintar baca kanji. Dibilang susah kalau kamu berbelanja sendiri ke supermarket di kota mu dan kau tertegun oleh jenis snack yang sepertinya sangat mengundang selera.

Masih banyak sebenarnya jenis makanan yang boleh dan tidak bisa kita makan,dan tentu saja proporsi makanan yang tidak bisa dinikmati akan jauh lebih besar, a large number! Ini kayaknya kalau rekan-rekan saya yang masih tinggal di jepang, membaca tulisan ini, pasti mereka akan kritisi, “contoh makanannya cuma segitu, Nis??” Hahaha…iya lah, ini kan cuma prolog.

Eh, tapi kalian perlu tahu, sempat juga kejadian. Beli kroket yang sedianya polos, sampai di gigitan ketiga aku menemukan gumpalan tipis kecil bacon. Sudahlah, ikhlaskan saja, berikan kepada yang berhak alias temanmu yang bisa makan bacon ( dan itu tuh beraaat )

Ada lagi, saat engkau menyangka kanjinya bertuliskan tuna mayonaise pada sebuah jenis onigiri, ternyata ia adalah kanji untuk DAGING BABI CINCANG mayonaise. AAArrrgh…kali ini diikhlasin versi sudah masuk perut. Hiks

Sampai kemudian,

Nah ini dia….

Oh Tuhan, saya memberi begitu banyak prolog, padahal inilah isu yang mau saya sampaikan.

Sampai kemudian,

Teman saya diberikan omiyage ( oleh-oleh )kit kat maccha dari rekan sekantornya yang baru saja pulang dari berliburan di Tokyo.Banyak banget,katanya.

“Bisa dimakan ga Nis?, ia mengkonsultasikan ini pada saya.

“Teman aku tuh heboh banget, ribut, dia bilang susah nyari makan halal di Jepang, bosan makan mie instan yang dia bawa dari Indonesia, solat aja susah, sekalinya solat, dilhatin orang banyak”, sekali lagi ia menambahkan ceritanya tentang rekan kerjanya.

“Tadi pagi anakku makan sebungkus, tapi aku mau pastikan lagi ke kamu”, sambil menunggu jawaban dari saya, ia melanjutkan kalimatnya.

Aku masih ingat heboh tentang KIT KAT GREEN TEA yang kabarnya semenjak produksi tahun 2014 mereka memasukkan kandungan pork kedalamnya.

Aku masih ingat, di jejaring sosial, kubu yang menyebarkan info tentang ketidak halalan kit kat dengan kemasan berwarna hijau akhirnya cukup tersudutkan oleh rekan-rekan yang yakin dengan ingredients nya tidak mencantumkan pork. Alasan mereka kemudian adalah jangan mempersulit diri

Aku juga melihat email balasan dari customer service Nestle yang menjelaskan tentang kandungan pork dalam kit kat hijau yang di forward dari temanku yang memang kami berada dalam satu area kampus yang sama.  Karena dia yang bertanya, maka email itu tidak bisa dikatakan hoax.

“Kit kat hijau itu pernah masuk kategori halal, tapi untuk sampai dengan terakhir produksi tahun 2013″, ucapku.

“Tapi dari hasil balasan costumer service nestle melalui email, tahun 2014 mereka memasukkan unsur pork kedalamnya. Tapi memang, di ingredients nya tidak dicantumkan tentang adanya pork. Kamu bisa memilih fatwa tidak ada kandungan pork dibagian kemasan”, dengan tidak memasukkan unsur pemaksaan, aku berusaha menjelaskan secara obyektif.

Dari dua kalimat itu, temanku segera mengeluarkan statement, “Ah, ya sudahlah, kalau sudah seperti itu, jelas. sisanya akan aku kasih ke yang lain. Aduh, mana anakku tadi sempat makan. Ah, tapi kan tadi kami belum tahu ya”, temanku merespon penjelasanku.

Saluran telepon kami masih aktif dimana dia melanjutkan berkata, “ya kalau sudah syubhat mah mending menghindar aja deh”

Wedew, saluut, aku kira dia mau ambil sikap sama seperti kubu yang berteori, JANGAN MEMPERSULIT DIRI.

Karena pada akhirnya, tidak semua makanan yang ada di negara sakura ini dilarang untuk umat islam. Trust me, sebagai manusia bodoh dalam berbahasa jepang dan membaca huruf kanji, saya bisa pastikan, you can survive living in such kind of islam minority country. At least, saya masih bisa balik dan menulis blog di kampung halaman sehat wal’afiat.

“Kamu ngecek ingredients?”,kali ini bersama teman saya yg lain di bagian rak produk makanan impor di sebuah supermarket Kawasan pondok indah. “Wah, cerdas juga, bahkan aku aja biasanya langsung beli tanpa lihat bagian yang itu”, tegasnya.

Lastly, snack is not only about kit kat maccha. Di mana ada kemauan, disitu ada jalan. Karena selama saya di jepang,justru banyak ide2 baru tentang kebutuhan pangan Ini. *kali ini lampu thomas edison nya beneran muncul \ (@_@)/

(kalian yang tahu rahasia saya bertahan di negeri sakura sebagai wanita tak banyak paham dapur dilarang kasih komen, wkwkwk  )

One comment on “Kalau semua dilarang,lalu kami makan apa?

  1. reza
    November 13, 2014

    Saya sangat ingin bisa ikut TT 2016.. Tapi kebingungan dengan status pegawai tetap dan bkln, barangkali saya bisa tanya2 ke mana? Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 11, 2014 by in Pokoknya Cerita!.
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: