Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

食農教育 (agriculture-food education)

SD Niijuku sawahAda sebuah SD bernama SD Niijuku, terletak di kota Takahata, daerah Yamagata (Utara Perfecture Fukushima). Jumlah total siswanya hanya 49 siswa, dengan 17 guru. Siswa kelas 2 hanya 1 orang, jadi digabung dengan kelas 3 yang berjumlah 8 orang. Ditambah dengan “kelas utk anak berkebutuhan khusus”, total berjumlah 6 kelas saja. Meski demikian, untuk pendidikan makanan-pertanian (食農教育atau dalam bahasa inggris disebut agricultural education), sekolah ini mungkin bisa disebut “Japan Top Learner”.

Sekolah ini dan juga sekolah yang lain meminjam tanah atau ladang yang tidak terpakai, yang bebas sewa. Separuh lebih sayur yang digunakan untuk makan siang, adalah sayur yang ditanam oleh siswanya. Berikut ini adalah jumlah sayuran yang dipanen pada tahun 2009 :

  • Kelas 1, 2 : Ketela manis (satsumaimo) 101 kg, bawang daun (negi) 120 kg
  • Kelas 3 : Talas (Satoimo) 67 kg, Kedelai (daizu) dan kedelai hijau (eda mame) 46 kg
  • Kelas 4 : Kentang (jagaimo) 365 kg, Lobak (daikon) 346 kg
  • Kelas 5 : Kubis (kyabetsu) 86 kg
  • Kelas 6 : Wortel (ninjin) 237 kg, Sawi putih (hakusai) 250 kg

Semakin tinggi kelasnya, mereka menanam sayur dengan tingkat kesulitan yang semakin bertambah. Kenapa anak kelas 5 SD hanya bisa menanam 1 sayur, yaitu kubis saja? Ternyata, anak-anak kelas 5 juga membuat mochi, jadi,waktunya tersita untuk membuat mochi mulai perlengkapan hingga jadi.

Kegiatan bertani ini diawali dengan kegiatan bermain air dan lumpur di sawah, lalu menyiangi rumput di musim panas, hingga panen. Sekolah dan guru mengupayakan agar aktifitas ini dilakukan sealami mungkin, sehingga bisa menyesuaikan dengan perasaan dan minat anak-anak secara bertahap.

“Aktifitas ini bukan sekedar pengalaman di ladang atau sawah, namun benar-benar diupayakan supaya menjadi kegiatan yang berhubungan erat pembelajaran.”, kata Kepala Sekolah Aita Akihiro. Tiap kelas bukan sekedar “panen banyak”, namun mereka benar-benar menghitung jumlah sayur yang dipanen. Karena sayur tersebut ditanam sendiri, dengan jerih payah sendiri, maka mereka berlatih cara menggunakan timbangan dengan serius, agar bisa mengukur jumlah panennya dengan benar.

Tentu saja, keberhasilan ini tidak bisa muncul begitu saja. Apalagi untuk anak kelas 1-2 SD. Hal ini berkat jasa kepala sekolah sebelumnya, 伊澤良治先生 (Izawa Ryouji)、yang berjuang selama 10 tahun. Saat pertama kali beliau mencetuskan ide untuk melakukan kegiatan bertanam sayur bagi semua kelas (kelas 1 s/d 6 SD), banyak guru yang menentangnya. Ide beliau ada di dalam sebuah tulisan (buku?) berjudul “Menumbuhkan hidup, mengolah hati” (Asosiasi Hikari Kyoukai). Tidak sedikit guru muda yang bertentangan dengan beliau, antara lain guru muda lelaki berkata, “Saya benci tanah (bersentuhan dengan tanah)”, ada juga guru perempuan yang mengatakan, “Saya punya alergi serbuk bunga” dan lain-lain. Namun, Aita sensei terus berjuang, sehingga satu persatu tembok penghalang itu bisa ditembus. Kegiatan bertanam sayur terus dilanjutkan, sampai anak-anak bisa merasakan kegembiraan saat panen. Awalnya pola pikir anak-anak yang berubah, lambat laun pola pikir guru pun ikut berubah. Guru yang lain pun akhirnya ikut mendukung kegiatan ini, mereka melontarkan pertanyaan, “Kabocha (labu) itu dari mana datangnya ya?” untuk memancing rasa ingin tahu anak-anak.

“Memakan makanan hasi  tangan sendiri merupakan rantai awal yang menghubungkan anak-anak dengan kekuatan hidup.” Begitu kata Izawa sensei. Negara Jepang, suatu saat bisa saja menjadi lupa tentang asal muasal yang berhubungan dengan kehidupan. Bisa jadi akan muncul masyarakat, di mana anak-anak tidak mau bersentuhan dengan tanah.

SD Niijuku (二井宿) terkenal dengan sebutan “有機農業の里” (Desa pertanian organik). Di sini juga ada seorang ahli pertanian, Satou Kichio (佐藤吉雄) , yang mengajarkan know-how kepada anak-anak. Beliau sangat bersemangat, tidak terlihat kalau sudah berusia 88 tahun.

Dari kegiatan bertanam ini, anak-anak bisa “Belajar bersusah payah”. Frase tersebut bukan bernada negatif, namun sebaliknya. Karena anak-anak telah bersusah payah menanam, maka kegembiraan saat panen akan terasa berlipat-lipat. Apalagi jika bisa makan siang di sekolah, dengan sayuran yang ditanam sendiri. Benar-benar sebuah kesempatan emas.

Anak-anak bisa belajar bagaimana menyiapkan makanan yang diinginkan, sesuai dengan kebiasaan (manner), serta memahami makanan yang menunjang kesehatannya. Melalui kegiatan ini, bisa dibentuk ikatan batin anak-anak dengan makanan, serta memperdalam pengertiannya terhadap sistem produksi dan distribusi makanan. Dengan terjun langsung ke ladang/sawah, anak-anak bisa tahu bagaimana perasaan petani, sehingga dia akan belajar menjadi konsumen yang baik, berterima kasih atas jasa petani, tidak menyia-nyiakan makanan (sayur).

Source : http://istikumayati.wordpress.com/2014/06/15/agricultural-education-di-sekolah-jepang/#more-2342

長岡昇、高橋章子「未来を生きるための教育」hal 165-173

Buku yang ditulis oleh mantan wartawan Koran Asahi Shinbun, Nagaoka Noboru, pria kelahiran Pref. Yamagata 1953. Pada tahun 1977, lulus dari jurusan hukum di Univ Tokyo, lalu mulai bekerja di Koran Asahi Shinbun pada tahun 1978. Pernah menjadi pemimpin redaksi di Jakarta dan New Delhi, yang kemudian memutuskan pensiun dini pada Januari 2009, lalu di tahun yang sama bulan April menjadi kepala sekolah di SD Ooya.

About Kuma

Mantan pegawai. EO sekaligus manager di CV. Kreasi Presentasi (www.KreasiPresentasi.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 23, 2014 by in Istikumayati, Pengalaman Sehari-hari, sekolah, TT 2013 and tagged , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: