Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Persoalan Penilaian Deskriptif di Rapor Siswa

Bisakah orang tua membaca nilai?

Bisakah orang tua membaca nilai?

Hari Ahad yang segar, gerimis di Hiroshima membangunkan katak-katak di sungai dekat apato saya. Minggu-minggu ini rekan guru di kampung halaman saya pasti sedang mengikat kepalanya untuk menuntaskan kerja rodi menulis rapot sebelum tenggat waktu menyalak dari ruang kepala sekolah, “Rapotnya sudah selesai?”

Setiap guru saya yakin pernah merasakan sibuknya mengumpulkan data-data nilai muridnya, bukan karena telah hilang disimpan entah dimana, melainkan karena guru diharuskan mengolah data-data tersebut menjadi deskripsi. Yakni saat memberikan angka 7, guru diminta menjelaskan apa maksud angka 7 tersebut kepada orang tua, alih-alih sekedar menggambarkan bahwa nilai tersebut adalah  3 angka sebelum nlai sempurna dalam skala 1 sampai 10.

Yang cukup sulit adalah menstandarkan deskripsinya. Misalnya, dalam sebuah proses penilaian terdapat beberapa aspek yang dinilai guru. Katakanlah penguasaan materi, minat, ketelitian, ketepatan waktu, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut tentunya mendapatkan bobot nilai yang berbeda yang dipengaruhi oleh cara pandang guru. Banyak guru yang memandang penguasaan materi sebagai aspek yang paling penting sehingga mendominasi sebagian besar porsi penilaian. Namun nilai akhir tetap saja memerlukan perpaduan aspek-aspek yang dianggap minor, sehingga saat memberikan angka 7 terdapat penjabaran bahwa Wawan kurang menguasai materi namun memilliki minat dan ketekunan yang tinggi, atau Wati yang sama-sama mendapat 7 namun cukup menguasai materi hanya saja minatnya biasa-biasa saja sedangkan ketekunannya compang-camping. Sengaja saya tulis Wawan dan Wati, agar mereka menemani diskusi saya pagi ini.

Permasalahan pertamanya adalah bagaimana guru bisa tekun membedakan angka 7 untuk Wawan dan Wati yang jumlahnya bisa mencapai 40 orang sekelas dari kelas 1A hingga 1D? Guru membutuhkan cuti seminggu dari sekolah hanya untuk mengerjakan rapot yang dipersonalisasi (disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa) yang tentu saja permintaan ini mengkhayal. Akhirnya guru kembali kepada rumus excel dimana setiap siswa yang mendapatkan nilai 7 itu maksudnya dianggap sama, tanpa menghiraukan aspek-aspek unik yang dimiliki Wawan dan Wati.

Permasalahan kedua adalah saat orang tua menerima rapot anaknya dari wali kelas. Ayah Wati gembira mendapati angka 7 terekam pada pelajaran Matematika putrinya. Bagi keluarga mereka, angka 7 sudah merupakan mukjizat mengingat Wati sama sekali tidak melirik buku Matematika di rumah. Bagi Wati memasak dan menjahit merupakan hobi yang menyita perhatiannya. lain halnya Ibu Wawan, yang seorang akuntan perusahaan besar. Angka 7 memberikan syok yang menghancurkan harapan sang ibu menguliahkan anaknya ke luar negeri. Wawan, betapapun dia mewarisi kecintaan kepada Matematika sebagaimana ibunya, belum mampu memecahkan misteri sinus dan tangen yang diajarkan gurunya. Inilah masalahnya, hanya dengan memberikan nilai 7 tanpa penjelasan yang akurat akan ditangkap dengan respon yang tidak disangka-sangka.

Lalu, bagaimana mengkompromikan dua masalah ini? Ah, kopi saya habis…

About #Jemparing Gilig!

Pernah menjadi guru di Al-Furqan Jember, di tingkat SD, SMP, dan SMK. Pernah menempuh pelatihan Manajemen Sekolah di Hyogo University of Teachers Education di Jepang pada tahun 2008-2010. Menjabat kepala SMK Al-Furqan Jember pada tahun 2011-2013. Menempuh pelatihan TEFL di Hiroshima University. Kini menekuni olahraga sunnah panahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: