Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Apa ini GAMBARU! Muak aku!!!

Terus terang saja, satu kata yang benar-benar membuatku muak saat di Jepang adalah GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Aku selalu muak habis-habisan dengan kata ini, sumpah, karena setiap kali saat belajar Nihongo (Bahasa Jepang), kata-kata penutup selalu: motto gambatte kudasai (ayo berjuang lebih lagi), nihongo wa taihen desune, isshoni gambarimashou (saya tahu Bahasa Jepang sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama). Sampai aku rasanya pingin ngomong, apa tidak ada lagi kosakata lain selain GAMBARU? Hewdeh!!! Menjelang tes (baik tes grammar, kanji atau berbicara sensei pun menyebut kata ini, saat mau happyou (presentasi/pemaparan gitu) kata ini terucap dengan seringnya. GAMBARU, GAMBATTE, GAMBARIMASHOU, selalu terdengar. Percaya deh!!!

Karena jiwa slengekan yang cukup tinggi itulah aku mulai mencari makna kata ini. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang asal-asalan, begitu-begitu  saja, jika mood malas menyerang dan rintangan menghalang ya sudah saja.. pasrah gitu. Gampangnya QUIT, yup berhenti saja, sudah cukup, pasrah saja terserah kalian mau menyebutnya apa. Padahal enurut kamus bahasa Jepang, Gambaru itu artinya :

“doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha denga habis-habisan). Mungkin seperti berjuang sampai titik darah penghabisan di Indonesia.

Gambaru, terdiri dari dua karakter yaitu karakter keras dan mengencangkan. Jadi, gambaran yang bisa didapat dari perpaduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan tersebut” (dengan kata lain kita tidak boleh manja, berpangku tangan tapi anggaplah semua persoalan itu adalah warna-warni perjalanan dalam hidup, bukankah hidup memang pada dasarnya susah, jadi jangan pernah berharap hidup itu mudah bin gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik).

Sebelum menginjak Jepang pun kata ini sudah sering aku dengar dari teman, murid atau orang lain. Enam bulan berada di Jepang, rasa penasaran akan kata tersebut menyeruak ingin keluar, dengan Bahasa Jepang level jongkok, aku mencoba bertanya pada Senseiku, mengapa Gambaru ini seperti menjadi pedoman atau flasafah hidup warga Jepang. Karena pada saat kunjungan ke SD di daerah Mima-shi pun, anak-anak kelas 3-6 ini menyemangati kami yang mau Happyou dengan kata ini. Kayaknya ngomong Gambaru ini jadi wajib deh. Bahkan sering muncul di flashcard nihongo kelas. Bahkan saat musim dingin, bahkan anak-anak SD ini cuma pakai kaos olahraga pake kaos olahraga tipis dan celana pendek, sedang aku baju berlapis-lapis. Saat aku tanya ke gurunya, dengan santai mereka menjawab, cuaca dingin itu datang tiap tahun, dan kami harus menghadapinya, jadi ya kenapa harus kalah dengan musim dingin.

Bahkan heater (pemanas) hanya ada di lingkungan daigaku (universitas). SD sampai SMA akan menikmati cuaca dingin dengan panas tubuhnya sebagai tameng. Begitu deh jawaban yang dapat aku mengerti dengan level Bahasa Jepang N10 (hihihi). Bahkan, jika cuma sakit sedikit, misalnya ingus yang keluar atau demam hanya 37 derajat, bolos masih tidak diperbolehkan. Murid akan tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, tidak ada itu namanya dispensasi. Mereka beralasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.

Akibatnya, saat lelah menghapal materi happyou juga Huruf Hiragana, Katakana serta Kanji dengan stroke-strokenya yang menawan itu, sensei atau teman-teman selalu bilang, Sonny-san, gambare! Sonny-san faito! (Sonny ayo berjuang, Sonny ayo fight!). Intinya jangan manja dengan masalahmu, Gambaru sampai titik darah penghabisan.  And it’s a must!!!

Dan aku baru ngeh, akan pentingnya Gambaru ini dalam hidup. Saat senseiku yang aseli Kobe ini menayangkan foto dan video bencana tersebut. Saat itu Pelajaran Unit 39, di buku Minna no Nihongo II.  Gempa bumi(地震)dengan kekuatan 7.2 skala Richter menghantam Jepang bagian timur. Tepatnya di Kobe Hyogo Jepang. Epicenter gempa terjadi di Pulau Awaji dan berkedalaman 16 km. Kejadian pada tanggal 17 Januari 1995  sekitar jam 5.46 pagi ini berlangsung kurang lebih 20 detik, yup 20 detik saja yang meminta hamper satu dekade untuk memulihkannya.  Padahal kita tahu tsunami dan gempa bumi adalah bagian tak pernah terpisahkan dari kehidupan warga Jepang. Sekitar 6000 korban meninggal dunia dan 300.000 orang kehilangan rumahnya, kita bisa tahu betapa dahsyatnya kejadian tersebut. Di Negara kita, Indonesia, bencana alam pun semakin marak terjadi, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, juga hal yang yang tidak mudah kita hadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar korban dan kerusakannya di dunia.

Jadi menurutku, wajar kalau pemerintah dan masyarakat Jepang panik kebingungan akibat bencana ini. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa dimaklumi jika stasiun-stasiun TV memainkan musik dengan latar lagu-lagu ala Ebiet dan membuat video klip berisi wajah-wajah sedih para korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. Karena kita tahu, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki di Kobe (karena itu bayangan yang kulihat di TV di rumah).

123

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, tak kutemukan satupun tayangan dengan lagu-lagu ala Ebiet, rekening sumbangan bencana alam, serta video ratapan korban bencana. Saat sensei menjelaskan hal ini, mata beliau berkaca-kaca mengingat kejadia tersebut, dalam video tentang saluran TV saat itu, tak kutemukan 3 hal tersebut muncul di tayangan TV. Padahal, jujur aku menunggu lagu-lagu ala Bung Ebiet berkumandang juga di Gempa Tohoku, tapi gagal lagi. Dan 3 hal tersebut tidak sekalipun muncul di saluran TV.  (Karena tidak puas, karena masih menganggap video tersebut EDITAN, akhirnya aku coba googling di youtube dan bertanya kepada teman jepang yang bekerja sebagai wartawan dan pernah bekerja di Jakarta selama 4 tahun, dengan bijak dia menceritakan bahwa hal-hal tersebut benar adanya).

Terus, yang ada di video sensei hanya:

  1. Peringatan dari Pemerintah Jepang agar setiap warga tetap waspada;
  2. Himbauan Pemerintah agar seluruh warga Jepang saling membantu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah Tokyo dan Tohoku tidak terlalu lama mengalami mati lampu);
  3. Permintaan maaf dari Pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik secara terencana dan bergiliran;
  4. Tips-tips dalam menghadapi bencana alam;
  5. Nomor telepon (call center) bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam;
  6. Pengiriman tim SAR dari setiap Prefektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana;
  7. Tayangan warga dan Pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana;
  8. Memunculkan semangat terus berjuang dari Pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional: mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (Government Official menggunakan kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah: menaiki dan melewati) dengan tulus;
  9. Gambaran warga yang terkena bencana, tapi saling memberi semamnga antar satu sama lain.

Begitu juga saat Gempa di Tohoku pada tanggal 11 Maret 2011, 3 tahun lalu, yang sempat menghebohkan dunia karena merusak reaktor nuklir Jepang dan membuat dunia panik. Ada tweet di twitter (yang sempat terkenal, kalau diterjemahkan ke bBahasa Indonesia, kurang lebih begini sih) : “ini gempa dengan skala terbesar (9.0 skala Richter). Karena itu, kita harus memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas”.

54

Sebagai warga Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala Jepang ini dengan Gambaru-nya, aku benar-benar malu dan juga kagum dan hormat banget sama warga dan Pemerintah Jepang ini.

Negeri ini sangat luar biasa (seumur hidup saya tidak pernah memuji negara lain, selain Indonesia, walau dengan banyak kejelekannya, kali ini aku harus mengakuinya) negeri yang sumber daya alamnya terbatas sekali, negeri yang alamnya sangat keras, tapi bisa maju luar biasa dengan cepatnya (terutama setelah peristiwa bom atom) dan punya mental sekuat baja, dengan: falsafah hidup Gambaru-nya itu.

Dengan kata lain, masih menurut saya, warga Jepang ini, sudah tidak punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, dengan Gambaru ini, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dan rintangan dalam hidup. itu juga yang saya dapat saat ber cas cis cus bahasa Jepang… Mereka bangga banget punya kata ini.

*

Di Indonesia,  kita selalu berpasrah sama Allah. Hanya, mental yang dikit-dikit “nyalahin” Allah, selalu berkata jika ini semua kehendakNya, Allah marah pada umatNya, Allah marah dengan perantara alam. Dan saat itu kata Bang Ebiet kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang.

100 persen jaminan mutlak, jika mental tersebut masih kita pelihara, sampai akhir dunia pun, aku rasa Negara tercinta ini bakal susah maju dan berkembang. Bahkan kecenderungan “menyalahkan” Allah atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari hilangnya rasa bertanggung jawab terhadap hidup yang diberikan oleh Allah. Lari dari masalah, tidak mau menghadapi masalah, menyalah-nyalahkan orang lain, enggan berjuang dan jika bertemu dengan sedikit persoalan, ratapan tangisan nan manja mulai ditampakkan.

 *

Dan pertanyaan inilah yang muncul saat aku berebut program beasiswa ini, kenapa memilih Jepang untuk belajar Bahasa Inggris. Kenapa Jepang, padahal warga Jepang Bahasa Inggrisnya juga hancur seperti kita. Kenapa bukan Australia, New Zealand, atau sekalian Inggris atau Amerika. Jawaban ringan berkelebat di pikiranku, memang salah belajar Bahasa Inggris di Indonesia, bahkan belajar Bahasa Indonesia yang baik itu ada di Belanda. Nah!!!Toh Jepang masih di Asia juga, tidak mungkin bisa Go International, negeri kecil pula. Tapi yang kuihat adalah Jepang adalah sama seperti Indonesia dimana Bahasa Inggris merupakan Bahasa Asing, dan juga aku ingin belajar, bagaimana guru-guru Jepang menyampaikan materinya di kelas dengan metode-metode menarik mereka. Tapi sekarang, aku punya tambahan alasan yang lebih menyakinkan orang-orang tersebut terutama rekan-rekan kerja yang selalu bilang tidak ada gunanya menuntut ilmu di Jepang. Karena pernyataan mereka salah besar. Mereka tidak tahu atau lupa jika mental Gambaru itu yang paling jago adalah di Jepang. Dan menjadikan mental Gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada Go International dan sejenisnya. Benar sekali jika Bahasa Inggris, bisa dipelajari dimana saja. Terutama di Negara aselinya, tapi, memahami semangat juang dan memiliki mental untuk tetap berjuang habis-habisan, hanya ada di satu tempat, Jepang. Dan aku, Sonny, sangat bersyukur berada di sini, saat ini.

Maka, sejak saat ini, jika mendengar kata Gambaru, dimanapun berada, aku sudah tidak muak lagi. Sebaliknya, aku selalu berucap dengan rendah hati (walau mungkin ini salah ya.. tapi kata teman produk Jepang ini benar hihihi): Indonesia-jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshiete kudasatte. Kokoro kara kansha itashimasu. Nihon-jin no minasan no youni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu youni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, warga Jepang).

Jadi ijinkanlah saya mengganti judul postingan ini dengan THANKS TO GAMBARU!!!

 

Sonny Elfiyanto

TT 2013

About sonnyelfiyanto

I am a humorist, easy going, and care person. I like playing music a lot. Now, I am an educator in Malang. Collecting Hot Wheels and Gundam are my new hobbies.

4 comments on “Apa ini GAMBARU! Muak aku!!!

  1. paktheda
    February 8, 2016

    Dari paragraph awal saya udah ngebayangin Pak Sonny, ternyata bener Pak Sonny, wkwkwk

    • sonnyelfiyanto
      February 12, 2016

      Anda benar

  2. sonnyelfiyanto
    June 21, 2014

    benar.. mereka saling membantu, seperti kita disini juga ada yang ikut berpartisipasi di gempa di Fukushima…

  3. Dyah Hapsari Fajarini
    May 7, 2014

    Subhanallah.. saling menguatkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2014 by in Pokoknya Cerita!.
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: