Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Terima Kasih, Thank You, Arigatou

Artikel Oleh Wahyu Farrah Dina, TT 2012

“Terima kasih.”Kata yang sederhana tapi penuh makna. Kita terbiasa mengucapkan kata itu saat mendapatkan sesuatu atau bantuan dari orang lain. Begitu juga dengan anak-anak kita, biasa diajarkan mengucapkannya saat mendapatkan sesuatu. Tujuannya tentu untuk bersyukur dan menghargai orang lain yang memberi sesuatu kepada kita. Tentu hal itu tidak salah. Tapi ternyata ada pengalaman yang mengubah pola pikir saya.

Pada awal kedatangan ke Jepang untuk belajar, saya membuat janji untuk bertemu dengan Profesor.Di tengah jadwalnya yang padat, beliau akhirnya bisa menyediakan waktu untuk bertemu dengan saya.Tentu saya sangat menghargai kesempatan itu dan mengucapkan tetima kasih. Tapi belum sampai saya ucapkan terima kasih, ternyata beliau mendahului dengan mengucapkan “terima kasih sudah mampir ke ruangan saya.” Padahal saya yang diuntungkan tapi beliau yang mengucapkan terima kasih.Sampai sekarang pun beliau selalu mengucapkan terima kasih, bahkan sekedar untuk hal keseharian seperti “terima kasih sudah datang ke kelas”.

Suatu waktu sekolah anak saya yang usia TK melakukan piknik ke taman. Karenanya makan siang yang biasanya disiapkan di sekolah, hari itu tidak disediakan. Setiap anak harus membawa bekal makan siang untuk dimakan di taman. Tentu itu kewajiban saya sebagai orang tua. Justru saya bersyukur para guru sudah bersusah payah melaksanakan piknik itu. Terbayang beratnya guru-guru itu mengatur puluhan anak TK berjalan ke taman yang letaknya cukup jauh melewati jalan raya yang ramai. Pastilah saya bersyukur dan berterima kasih sekali dengan para guru tersebut.

arigatoTapi ternyata keesokan harinya saat bertemu dengan guru, dengan membungkukkan badan gaya khas orang Jepang, beliau mengucapkan ” maaf ya kemarin harus menyiapkan makanan. Terima kasih karena sudah menyiapkan bekal makanan.” Saya sama sekali tidak berpikir itu sesuatu yang harus diberikan ucapan terima kasih karena itu sudah kewajiban saya.

Di lain kesempatan, saya melakukan peran yang berbeda. Saat itu saya membantu teman sebagai guru di sebuah TK internasional.Suatu hari TK tersebut melakukan program kunjungan ke kebun binatang. Orang tua diperbolehkan untuk ikut serta karena usia anak-anak yang mulai dari 2 tahun. Hampir semua anak didampingi orang tuanya. Dan orang tua juga terlibat aktif membantu guru saat kegiatan berlangsung. Bahkan para orang tua juga menyiapkan makan siang untuk para guru, termasuk makanan yang halal khusus untuk saya.

Tentunya sebagai guru, saya berterima kasih pada para orang tua yang banyak membantu kegiatan tersebut.Namun lagi-lagi, keesokan harinya saya bertemu orang tua yang mengantarkan anaknya dan berkata “terima kasih bu guru, kemarin sudah membimbing anak-anak.”Sekali lagi saya berpikir, terima kasih tidak perlu diucapkan orang tua tersebut karena ini adalah kewajiban saya.

Dari ketiga peristiwa itu, saya belajar bahwa di setiap saat dan waktu selalu ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih. Seringkali kita berterima kasih hanya pada saat sesuatu yang istimewa terjadi, bukan pada yang “seharusnya” kita terima. Alangkah indahnya saat kita selalu mengucapkan terima kasih, yang artinya kita selalu melihat ada sesuatu yang patut untuk disyukuri. Setiap saat selalu ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain.

Dan bagi orang yang mendapat ucapan terima kasih, ternyata bisa menjadi sebuah motivasi dan kebahagiaan sendiri.Misalnya, pada peristiwa-peristiwa di atas saya jadi merasa bahwa saya sudah melakukan hal-hal yang penting dalam keseharian saya. Menyiapkan makan siang untuk anak yang adalah hal “biasa” jadi terasa lebih istimewa. Begitu juga dengan membimbing siswa saat kunjungan ataupun sekedar datang mengikuti kelas perkuliahan.

Sudahkan kita berterima kasih pada orang-orang di sekeliling kita yang sebenarnya sudah melakukan banyak hal tapi kita anggap sebagai sesuatu yang “wajar” atau “sudah seharusnya”?

avatar wahyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: