Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Tes Wawancara

Artikel oleh : Astri Napitupulu, TT 2013

PROLOG

Setelah dinyatakan lulus tes tertulis, maka langkah selanjutnya adalah tes wawancara (setelah sebelumnya melakukan konfirmasi email seperti petunjuk di file pdf pengumuman dari website kedubes).

Berasal dari Balige, sebuah kota kecil yang berjarak 6 jam perjalanan dengan bis dari Medan, maka perjalanan menuju lokasi tes wawancara bukanlah hal semudah yang dialami rekan-rekan dari Jakarta dan sekitarnya.

Tentu saja, semua biaya perjalanan harus ditanggung sendiri, mulai dari ongkos bis, pesawat, bis bandara, dan juga biaya makan. Karena dulunya kuliah di Jakarta, maka banyak teman yang bersedia menampung seorang pejuang beasiswa yang keuangannya sedang pas-pasan. Maka biaya penginapan tidak diperlukan.

Sebelum berangkat ke Jakarta, ada sedikit persiapan kecil-kecilan. Merekam suara sendiri di HP dalam bahasa Inggris, kemudian memutar ulang hasil rekaman. Menurutku ini penting, minimal untuk menanamkan dengan lebih kuat lagi dalam hati motivasi mengikuti program beasiswa Monbusho; sehingga pada saat wawancara (karena motivasi pasti akan ditanyakan), spontan motivasi itu akan mengalir dari hati juga.

Saya tiba di Jakarta sehari sebelum wawancara (dengan membawa ijazah S1, KTP, dan surat-surat penting lainnya), tidak makan makanan yang pedas di malam harinya, tidur yang cukup, dan berangkat pagi-pagi benar dari kawasan Blok M. dengan mengendarai taksi. Saya tiba di kedubes Jepang pukul 7 pagi, terlalu pagi, hahaha.. Sebenarnya saya sudah menyantap roti dan minum susu sebagai sarapan di pagi hari, tapi entah grogi, entah memang hobi makan, saya merasa lapar lagi. Karena masih banyak waktu, maka saya keliling sekitar kawasan bunderan HI mencari gerobak makanan, berharap menemukan pedagang bubur ayam atau ketupat sayur, tapi hasilnya nihil. (Pesan moril: selalu sediakan snak di dalam tas Anda). Akhirnya saya kembali ke kedutaan, dan satu per satu, rekan-rekan peserta wawancarapun mulai berdatangan. Kami kemudian dipersilahkan masuk, menuju lantai 2 untuk mendengarkan pengarahan. Kami diberikan formulir MEXT untuk diisi ulang, beserta segala kelengkapannya. (dengarkan saja dengan seksama para instrukturnya.. bebas bertanya, kok.) Kemudian, wawancarapun dimulai. Kami dibawa ke ruang wawancara dalam kelompok, sekitar 4 orang per kelompoknya sesuai urutan pengumuman (alfabet). Nah, saya kebagiankelompok pertama, nomor urut 2.

WAWANCARA

Kami duduk di suatu ruangan, sementara wawancara dilaksanakan di ruangan di sebelahnya. Wawancara peserta pertama berlangsung sekitar 10-15 menit. Dia akhirnya kembali, dan dengan telapak tangan berkeringat dingin, saya melangkah ke ruang wawancara. Saya mengetuk pintu, dipersilahkan masuk, dan ada 4 orang di dalam. Ada kursi kosong di hadapan mereka, dan seorang pria berkebangsaan Jepang yang duduk paling kanan mempersilahkan saya duduk. Pertanyaan yang mereka tanyakan adalah seputar motivasi hingga ke masalah sanggup tidaknya nanti menyesuaikan hidup di Jepang, negara yang memiliki budaya disiplin yang tinggi. Dengan pewawancara pertama dan kedua (seorang wanita Indonesia, tapi tetap mewawancarai saya dalam bahasa Inggris), saya merasa dapat memberikan jawaban dengan baik. Dengan pewawancara ketiga, saya merasa sangat kacau. Apa saja yang ditanyakan beliau (seorang pria berkebangsaan Jepang), jawaban saya selalu “tidak”. (Beliau menanyakan tentang usulan penelitian saya, apakah saya sudah pernah melakukan penelitian serupa sebelumnya, dan satu hal lagi yang saya sudah lupa, tapi jawaban saya juga “tidak”. Saya tidak bisa berbohong.) Kemudian beliau menanyakan, universitas di kota mana yang menjadi pilihan saya, dan saya menjawab “Okoyama”, yang kemudian dikoreksinya, “Okayama!”, dan saya hanya bisa mengiyakan. Kemudian wawancara sepertinya sudah selesai, dan seperti lagu, “hatiku sangat kacau”. Tetap saja saya memberikan pernyataan akhir tanpa diminta, menyatakan bahwa saya ingin sekali mendapatkan beasiswa program ini, untuk pendidikan yang lebih baik, dan bahwa saya berasal dari kota kecil, dimana kesempatan seperti ini sangat, sangat jarang. Pria Jepang yang pertama sekali mewawancarai saya tampak simpatik dan menanyakan kapan saya tiba di Jakarta. Beliau kemudian mempersilahkan saya kembali ke ruang sebelah, dan sayapun keluar dari ruangan. Dari luar ruangan, saya mengintip sekilas ke dalam ruangan, dan astaga! Saya lupa merapikan kursi saya sendiri. Model kursinya kursi putar, sehingga ketika saya berdiri, tampaknya bagian belakang kursi berputar menjadi menghadap pewawancara. “Habislah!”, pikir saya saat itu. Saya juga mengingat, selama wawancara, saya melakukan gaya saya ketika mengajar, mengangkat kedua tangan di udara, memberikan penjelasan. (Oh, terlalu bergaya!). Belum pada saat saya kembali ke ruang tunggu wawancara, rekan-rekan saya berkomentar, “Oh, cepat sekali wawancaranya! Cuma lima menit?!”, seru mereka. Sudah rahasia umum, wawancara yang berlangsung terlalu cepat biasanya bertanda tidak baik. Biasanya seperti di ajang Indonesian Idol, jika kontestan bernyanyinya parah, juri akan langsung menghentikan nyanyian mereka.

SETELAH WAWANCARA

Seburuk apapun perasaan, waktu terus bergulir. Setelah semua peserta dalam grup kami diwawancara, kami kembali ke ruangan semula, untuk melaksanakan ujian tertulis Bahasa Jepang (bagi yang sebelumnya ujian tertulisnya bahasa Inggris), dan Bahasa Inggris (bagi yang ujian tertulisnya bahasa Jepang). Karena sama sekali buta dengan bahasa Jepang, saya menyelesaikan tes dalam waktu lima menit, karena semua jawaban saya adalah “A” dan “B”, inisial untuk 2 nama depan saya. Saya berharap, pihak universitas mengerti, saya benar-benar tidak paham bahasa Jepang. Selanjutnya kami dipersilahkan pulang untuk melengkapi berkas-berkas (ijazah dalam bahasa Inggris, formulir MEXT, formulir pemeriksaan kesehatan, proposal penilitian, surat rekomendasi Kepala Sekolah) untuk dikumpulkan kembali (via pos atau antar langsung) dalam rentang waktu paling lambat 2 minggu. Sendirian, saya melangkah menuju restoran cepat saji di seberang kedutaan. Biasanya kalau banyak tekanan pikiran, pelarian saya memang ke makanan (bukan kebiasaan baik). Tapi setelah makan, perut saya perih sekali. Dugaan saya, karena stres, asam lambung saya meningkat.

ENCOURAGEMENT

Sehabis makan siang yang panjang, sore harinya saya dan beberapa teman saya masa SMA ketemuan di Plaza Semanggi. Langsung saya curhat dengan seorang teman. Komplain terbesar saya adalah masalah attitude saya, dari soal cara berbicara melambaikan tangan, kursi yang tidak dirapikan, sampai jawaban “tidak” untuk setiap pertanyaan. Padahal orang Jepang sangat terkenal akan tuntutan kesopansantunannya. Teman saya yang sangat bijaksana itupun berkomentar,

Mereka kan, tidak sedang mencari orang Jepang, Tri, dengan tuntutan kesopanan yang sama… Justru kau perlu berangkat ke Jepang agar bisa belajar hal itu secara langsung. Take it easy.

Hati saya cukup tenang dengan pernyataan ini. Dan ketika saya tidak dihubungi kedubes lewat telepon lagi (pertanda saya lolos tahap wawancara), sayapun merasa jauh lebih lega.

Sekembalinya ke Balige, saat menceritakan pengalaman ini ke seorang rekan yang lain, dia berkomentar kira-kira seperti ini:

Kadang-kadang, pewawancara mencari orang yang tidak selalu menjawab “ya” atas pertanyaan mereka. Mereka ingin mencari tahu, mengeksplor orang-orang yang mereka wawancarai. Hal unik apa yang bisa ditemui dalam diri mereka. Kejujuran menjadi pintu untuk itu.

Semangat berjuang dalam Tes Wawancara ini, rekan-rekan!

(Pesan moril kisah ini: jangan terlalu stress seperti saya, hahaha. Kalau motivasi kita kuat, pewawancara akan mampu melihatnya, dan itu yang terutama. )

6 comments on “Tes Wawancara

  1. Pucuk
    April 22, 2014

    bacanya ajah deg2an…. ^_^

  2. Yati Widyastuti
    April 10, 2014

    mba waktu ikut tes tertulis TT, mengerjakan soal matematika, bahasa jepang and bahasa inggris?

    • astrina70new
      April 10, 2014

      oh, pas kita thn lalu hanya tes bahasa, mba.. bhs inggris buat yg bukan guru bhs jepang, dan tes bhs jepang bg guru bhs jepang.

  3. Gilig Guru
    March 25, 2014

    Pertimbangan utama bagi saya adalah MASJID, karena biasanya disitu akan ada toko halal dan komunitas Muslim.

    Pertimbangan kedua adalah jarak ke eki (stasiun) dan airport, karena rencana jalan-jalan atau PP ke Indonesia.

  4. Diian
    March 8, 2014

    Salam kenal mba Astri,
    Kalau boleh saya simpulkan, sepertinya proses tes wawancara TT 2012 dan 2013 agak berbeda ya Mba. Pada tes wawancara TT 2013 kita langsung disuruh mengisi formulir baru ditempat serta memilih universitas yang akan kita pilih. Bagi dong Mba, pertimbangan apa saja yang Mba ambil untuk memilih Univ yang dituju..🙂 Trus tentang “usulan penelitian” yang akan kita lakukan di Jepang, apa juga perlu disiapkan dari awal? Mohon dibagi pengalamannya Mba.. Makasi🙂

    • astrina70new
      March 8, 2014

      salam kenal jg mba Diian..
      oh, form nya boleh dibawa pulang dan diisi di rumah kok, mba..
      kalau sy, motivasi awalnya adalah bidang yg ingin sy pelajari dulu, yaitu bidang environmental science. Yang kedua adalah bahasa. Saya cari course yang dalam bahasa Inggris. Dari buku panduan yang diberikan kedubes (nanti dikasih link pdf nya juga), ketemu dah, kampus sekarang. Itu pengalaman sy pribadi. Boleh tanya rekan2 lain, utk tambahan referensinya. Slamat berjuang ya, ttp smangat ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: