Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Empitsu

Artikel Oleh : Kurnia Atiullah

Tentang pensil. Masih lekat nasehat kakek yang menyarankanku untuk menggunakan pensil terlebih dahulu di awal masa-masa belajar menulisku. “Kelak”, ujar beliau,” ketika kamu sudah lancar menulis dan sudah tegak goresan hurufnya, boleh menggunakan pena atau bolpen”. Jadilah saat itu, bisa menggunakan pen yang tintanya legam itu menjadi target pencapaian masa kecilku yang lugu.

Bolpen menjelma menjadi simbol pembebasan ketidakbisaan menulis, sekaligus seumpama garis pemisah antara anak yg masih kanak, dengan anak yang siap tinggal landas menuju perkembangan selanjutnya 
Tak sabar rasanya menunggu ijin resmi dari Bapak dan Ibu guru untuk menulis menggunakan pulpen. Rasanya teman2 satu kelas punya keGALAUan yg sama. Buktinya, kami sama2 menyimpan satu pulpen di kotak peralatan menulis, meski tau bhw kita tdk akan memerlukannya di sekolah. Sesekali saja, untuk melampiaskan hasrat yg blum terpenuhi itu, kami torehkan corat coret tak berarti bahkn kadang tak berbentuk di sobekan kertas atau dihalaman belakang buku..

Jadi praktis, semenjak lepas dari “jerat” masa menggunakan pensil, saya lbh sering menggunakan pena/pulpen/bolpen ( ball-point, krn ujungnya ada bola metal kecil yg menghantarkan tinta pada si kertas).
Pensil, menjadi terpinggirkan, atau teristimewakan?  , karena hanya aku pakai di saat-saat tertentu yang sangat terbatas. Satu, untuk belajar menggambar, dan Dua, untuk mengerjakan Matematika. Seiring perjalanan hidup yang membawaku menjauh dari aktifitas menggambar dan mengerjakan matematika, pensil menjadi semakin jarang ku genggam..hmm.

Tapiiiiiii 
Disini, berjumpa lagi dengannya! Berakrab-akrab dan menjadi sahabat, aku dan pensil. Hari pertama di kelas Bahasa Jepang, kami diminta menggunakan pensil oleh Sensei. Spontan, bolpen yg sdh nangkring di atas buku pun aku masukkan kembali. Sungguh! Saat itu, rasanya kembali ke masa duduk di kelas satu SD Wkwkwkwk. Untung sudah aku siapkan lengkap, pensil, penghapus, dan rautan, karena terbukti setelah itu, tiga benda itu menjadi alat wajib yg tdk boleh terlewatkan. Huruf-huruf Hiragana dan Katakana bukanlah huruf yang bisa dengan mudah kita tuliskan tanpa salah. Apalagi beberapa bulan setelah itu kami juga harus menantang diri dengan huruf Kanji. Maka, pensil saat itu kita perlukan dengan penuh kesadaran akan fungsi dan manfaatnya.

Namun, betapa sedikit heran setelah kelas intensif bahasa Jepang usai dan kami bergabung mengikuti perkuliahan master course. Para mahasiswa itu, alat tulis yang mereka keluarkan adalah pensil, bukan bolpen/pen. Aku edarkan pandangan, semua, memegang pensil. Bukankah mereka tidak lagi bermasalah dengan menulis Hiragana/Katakana/Kanji? Apa yang mereka takutkan?

empitsuSelanjutnya, bertambah bengong. Bukan hanya untuk mencatat, bahkan untuk menulis tugas ataupun mengisi lembar jawaban tes essay, mereka menggunakan pensil. Tentu saja ada juga yg menggunakan bolpen, tp itu sangaaat jarang, sangaaat jarang. Bolpen hanya terlihat mereka gunakan ketika harus mengisi formulir2 penting ataupun dokumen tertentu yang bersifat legalitas formal. Selebihnya, mereka lbh suka menggunakan pensil. Mengapa? Jawaban pastinya, hingga kini belum saya tanyakan dan dapatkan..

Rasanya tidak perlu bertanya, karena saya sndiri sudah menjadi terbiasa dan cinta dengan berpensil ria..

Mungkin, bagi sebagian orang yang senang menggunakan pensil, mereka menemukan nilai filosofi seperti yang dituturkan Andrie Wongso. Bahwa pensil akan memberi pelajaran tentang adanya sang Maha Kuasa yang menggenggam dan memberi petunjuk di setiap garis kehidupan, bahwa pensil yang akan tumpul dan tajam kembali setelah diserut merupakan metafor naik turunnya perjalanan, bahwa pensil selalu memberi kesempatan kepada penggunanya untuk memperbaiki kesalahan adalah cermin pribadi manusia seharusnya, bahwa bagian terpenting dari pensil adalah dalamnya yg hitam mengingatkan untuk selalu lbh mementingkan nilai internal dari pada eksternal tnp mengabaikan eksternal tentu saja, dan bahwa pensil selalu memberi peringatan kepada penggunanya akan arti sebuah goresan. Apapun itu, ketika goresan telah tercipta, akan ada akibat yang ditimbulkannya, baik maupun buruk. Sepatutnyalah kita berhati-hati..

Bagi saya, pensil adalah benda yang paling memahami sifat keteledoran yg dianugerahkanNya sejak lahir…keterlaluan klo sy tdk menyayangnya..

Catatan:
Pensil yang banyak di pakai oleh pelajar di Jepang adalah jenis Mechanical pencils yang disini disebut dengan ‘Sha-pu pensiru/ シャープペンシル’. Disebut demikian bukan karena ujungnya yang tajam ( sharp), melainkan karena mechanical pencil yang sekarang banyak digunakan diseluruh dunia pertama kali diproduksi oleh perusahaan ‘Sharp’ Jepang, yg sekarang lbh terkenal dg produk elektroniknya. Pensil jenis ini ada yang berbingkai bodi dari plastik maupun logam ( maaf, gk tau logam apa, hihi). Yg dari plastik bisa di dapat dengan ¥100 saja, tapi untuk yg dari logam dn biasanya sedikit berat, di jual dg harga ¥500 an, atau Rp.50.000an, klo kurs rupiahnya sdg turun. Sedangkan pensil serut, biasa disebut dengan ‘enpitsu/ えんぴつ/鉛筆’. Dua huruf kanji tersebut bermakna lead brush karena asal mula nenek moyang yang menulus dengan pensil berujung kuas.

avatar kurnia atiullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: