Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Apakah Anda Mendidik Happy Students?

Iqbal Akhirudin, sahabat anak

Iqbal Akhirudin, sahabat anak

Berikut ini pengalaman akhina Iqbal Akhirudin, PPI Hiroshima.

Kemarin sensei memperlihatkan video singkat suasana pelajaran matematika kelas 2 SD di Jepang. Guru dalam video itu adalah guru yang baru dua bulan mengajar. meski begitu, ia sudah menggunakan style yang biasa dipakai di sekolah-sekolah.

Pak guru ngasih soal begini:

Ada sebuah bis yang berisi 27 orang. Tak lama kemudian, bis berhenti di sebuah halte. Tak ada orang yang turun, sekarang jumlah penumpang jadi 34. Shiki! (buat persamaannya, jelaskan alasannya) dengan menggunakan apa saja di selembar kertas.

Hal yang menarik dari pelajaran ini:

  1. Pak guru tidak menanyakan “berapa jumlah yang naik” saja tapi juga “shiki” minta dijelasin alasannya kenapa dapat jawaban begitu. Kalau ditanya berapa jumlahnya saja, mungkin banyak anak yang sudah bisa menghitung dan langsung jawab atau ada yang belum bisa tapi nembak-nembak jawaban. Keduanya ngga ngasih justifikasi jawabannya.
  2. Di kertas itu ada yang bikin persamaan 27+kotak=34, kemudian menggambar bis beserta penumpangnya. Ada juga yang menggambar bis berpenumpang 34 lalu menghapus 7 penumpang dan menggambarnya lagi jadi bis berpenumpang 27. Ada juga yang menggunakan tape diagram. Semua bebas pakai cara yang ada dipikiran.(Ngomong2, saya pernah bantuin meriksa PR matematika anak-anak SD di sini, cara penjumlahannya agak membingungkan. Mungkin agak rumit bagi saya, mudah bagi anak-anak?)
  3. Murid-murid disuruh maju buat ngejelasin jawabannya, kertas mereka ditempel di papan tulis. Murid yang terlihat pendiam dapat kesempatan. Andai yang disuruh maju hanya murid yang mengangkat tangan, tentu selamanya hanya murid yang aktif yang akan maju. Dan murid yang weak atau pendiam makin ngilang.
  4. Saat penjelasan salah seorang murid terasa kurang jelas, ada murid yang bilang “aku nggak ngerti dengan penjelasanmu”. Perkataan “aku tidak mengerti” hanya ada di kelas dengan atmosfer yang nyaman, di kelas yang beratmosfer angker, tiap murid akan pura-pura ngerti semua. Kalau nggak ngerti pasti akan nunduk.(Hal yang sama yang pernah saya lihat di SD Kuchikita, Shobara. Di kelas, seorang murid berani bilang, “sensei, aku nggak ngerti”) 
  5. Saat ada yang bilang nggak ngerti nggak ada yang ngetawain/attack. dalam video itu malah ada murid yang nawarin, “aku punya equation (persamaan) lain” dan menjelaskannya.

Kemudian sensei menceritakan suasana sekolah di sebuah negara berkembang yang suasana di kelasnya muridnya duduk teratur dan kaku, lalu kalau ditanya mengangkat tangan seperti robot.

Dalam sebuah penelitan yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA), yang berada di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD), disebutkan bahwa Jepang termasuk negara yang memiliki best schools dan happiest kids (Indonesia menjadi happiest kids saja). Tampaknya memang suasana sekolah relatif menyenangkan.

Bisa dibilang tekanan di sekolah jepang yang sering diangkat ada dua: tekanan belajar dan bullying. (mungkin ada lagi yg bisa menambahkan?)

Tapi kalo kita perhatikan, tekanan belajar itu biasanya dari pihak keluarga (orang tua) sang anak itu sendiri, misalnya yang mengharuskan juku (les sampai jam 10 malam), yang punya ekspektasi sangat tinggi, misal biar kelak masuk Tokyo University. Andai ekspekstasinya biasa saja sekolah di jepang relatif nyaman. Bolos sekolah dan nakal nggak bakal kena hukuman fisik, dan nggak bakal di keluarkan.

Lalu tentang bullying, kenapa di sekolah jepang terasa dahsyat, seorang sensei pernah bilang: karena banyak orang yang peduli dan mengeksposenya. Di tempat lain juga pasti ada bullying, tapi kebanyakan orang cuek dan nganggap itu biasa, jadi seolah nggak ada atau nggak banyak bullying.

About #Jemparing Gilig!

Pernah menjadi guru di Al-Furqan Jember, di tingkat SD, SMP, dan SMK. Pernah menempuh pelatihan Manajemen Sekolah di Hyogo University of Teachers Education di Jepang pada tahun 2008-2010. Menjabat kepala SMK Al-Furqan Jember pada tahun 2011-2013. Menempuh pelatihan TEFL di Hiroshima University. Kini menekuni olahraga sunnah panahan.

4 comments on “Apakah Anda Mendidik Happy Students?

  1. ekafyulianie
    June 18, 2014

    SD di Jepang memang Te O Pe pake banget. Selalu terkagum-kagum kalo pas kunjungan ataupun lesson study ke SD disini. Belum lagi murid-muridnya yang kawaii.😀

    • Gilig Guru
      June 25, 2014

      Belum bu, nanti kalau dipaparkan “sisi gelapnya” mungkin akan berpikir berimbang.

  2. Arum
    April 10, 2014

    Pak ijin share yha???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: