Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Tutor : Teacher Training (1)

Tutor, istilah lainnya adalah pembimbing kita. Dia bukan dosen, tapi mahasiswa juga. Setiap mahasiswa asing, apapun programnya, biasanya diberikan fasilitas seorang tutor non-academic, di tahun awal kedatangan (tidak selalu). Tutor ini bertugas membimbing kita untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, bahasa, budaya dan lain-lain.

Awal kedatangan, aku ditawari mau dicarikan tutor apa tidak. Karena sensei sudah tahu bahwa aku pernah 1 tahun belajar di Nagoya Univ, menurut beliau aku bisa saja menolak tutor. Namun, aku tetep mau dikasih tutor.

Tutor ini dibayar oleh pihak kampus, semacam kerja part time, so rugi kalo ga kita manfaatkan. Hehe…. Tidak semua mahasiswa Jepang mau dengan suka rela meluangkan waktunya hanya untuk sekedar menemani mahasiswa asing, apalagi kalau tidak satu kelas dengan mereka.

Aku request tutor wanita, agar bisa kuajak ngalor-ngidul, dan ngobrol bebas sesama wanita (modus mo curcol..:P). Ternyata sensei memberiku tutor laki-laki😦 Dia seorang mahasiswa S-2 jurusan nougakubu (biologi-sains). Weeiiiih, lha kok sama kayak jurusan suamiku ya. Dia berniat ketemu dengan suamiku, namun sayang per 1 April dia harus pergi ke Tokushima, untuk sebuah project. Sedangkan suamiku baru datang ke Jepang 9 April tahun ini.

“Kane-san”, begitu aku memanggil tutorku. Orangnya pemalu, agak kutu buku (sekilas sih), ga seberapa gaul, ga terlalu banyak ngomong, susah dimintai pendapat, tapi orangnya baik dan selalu pegang janji.

Beberapa kali pertemuan, aku sering meminta masukan dan koreksi bahasa Jepangku untuk beberapa kali presentasi. Terkadang membantuku persiapan ujian dan mengerjakan tugas. Untung dapet tutor yg kutu buku, ga suka kelayapan. Karena aku juga tidak suka tutor yang ngajak makan-belanja-travel, yang ngabisin duit.

Suatu kali, dia mengajakku sekedar minum kopi di cafe sambil membicarakan bahan wawancaraku. Sebagian besar cafe di Jepang cukup nyaman dipakai untuk belajar, kita bisa berlama-lama di cafe itu. Tapi kalau pas lagi rame…, kadang ga enak juga, kasihan yang ngantri.

Nah, kebetulan hari Senin aku lagi puasa. Jadi aku menolak ajakannya, dianya ga kecewa sih. Cuman, ngerasa ga enak aja, sebagai gantinya aku kasih teh tarik instan dari Indonesia dan enting-enting ala Blitar. Sepulang dari pertemuan kali itu, dia bisa minum teh itu dilab-nya.

Fungsi lain (kayak mesin aja…), adalah ketika aku sakit. Tutor bisa dimintai tolong untuk mengantar ke klinik. Namun karena dia cowok, aku ga enak sih, jadi aku hanya minta rekomendasi klinik terdekat. Sebenarnya aku sudah menerima guide-book life gitu dari kampus. Namun karena posisiku saat itu hampir pingsan di atas kereta, buku itu ada di kamar. Maka aku menghubungi tutorku. Alhamdulillah, dokter muda yang ternyata alumni Nagoya Univ itu baik banget. Terkejutnya lagi, ternyata dia adalah teman baik sahabatku, Hiro. Hehe…. jadi, kapan-kapan bisa konsultasi gratis. (Indonesia banget, mintanya gretongan :P)

Oh iya, Kane-san asli dari kota Obu, sekitar 2 jam dari Nagoya. Dia tinggal di apartemen kecil, dengan beasiswa yang lebih sedikit dibanding aku. Satu hal lagi, mayoritas mahasiswa di Jepang mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliahnya. Dan, setelah mereka bekerja, mereka harus mengembalikan beasiswa tersebut, dicicil setiap bulannya. Misalnya dia dapat 80.000 yen setiap bulan, selama 4 tahun (S-1) dan 2 tahun (S-2). Setelah bekerja, dia bisa mencicil 20.000 yen setiap bulan. Maka hutang beasiswanya akan lunas setelah kerja 24 tahun. Sekarang usia Kane 25 tahun, maka hutangnya lunas saat berusia 49 tahun. Waah…… (@_@)

Makanya, dia mengatakan “wih, enak ya”, ketika kukatakan bahwa penerima beasiswa monbukagakusho tidak perlu mengembalikan uang beasiswanya. Inilah salah satu sebab, ketika lulus kuliah, orang Jepang akan lekas-lekas cari kerjaan, dan ganbatte, supaya bisa nyaur hutang.

Mungkin, kalo di Indonesia semacam beasiswa ikatan dinas ya ?? Bedanya, penerima beasiswa di Jepang ini tidak harus bekerja di tempat perusahaan/lembaga pemberi beasiswa. Mereka bisa kerja di manapun, dan nanti akan dipotong/membayar ke lembaga/perusahaan yang telah memberinya beasiswa.

About Kuma

Mantan pegawai. EO sekaligus manager di CV. Kreasi Presentasi (www.KreasiPresentasi.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2014 by in Istikumayati, Pengalaman Sehari-hari, Pokoknya Cerita!, Tentang Kampus, TT 2013 and tagged , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: