Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Jambu Air dan Pir

Disebelah timur rumah ku ( rumah suami tepatnya),ada sebuah pohon jambu air hijau. Kalau sedang musim, buahnya sungguh lebat. Mendadak pohon itu akan sangat terkenal di lingkungan kami, bahkan hingga ke beberapa desa terdekat. Bahkan sebelum buah benar2 matang dan pipi jambunya menggelembung karena rekah senyumnya yang sempurna, pohon itu sudah harus melayani serangan penggemarnya yang datang menerjang.

Tiba2 saja akan bermunculan anak2 entah dari mana,yang langsung saja naik dan menarik si jambu dari tangkai pelindungnya. Pohon ini ada di kebun kami yang berpagar, tapi tak seorang anakpun yang akan mengetuk pintu, permisi dan ijin memanen serta. Anak2 ku yg dua org, dr balik kaca dlm ruang keluarga kami hanya terbengong heran dan menoleh ke arah ibunya. Di benak mereka pastilah bertanya ” Bu, kami disuruh nunggu hingga jambu matang untuk memetiknya, biar tidak mengganggu bunga dan bakal buah yang lain, kenapa ibu tidak melarang anak2 itu?” Demi melihat kekecewaan di mata mereka, aku putuskan keluar untuk menyapa anak2 diatas pohon itu.

“Petik yang matang saja ya, secukupnya, sisanya boleh dipetik lain kali”. Serempak mereka menjawab “Iya”. Sepuluh menit, lima belas menit, mereka tidak juga turun. Kali ini saya keluar dn memastikan mereka segera turun semuanya krn trlihat penuh sudah semua kantong di bajunya. Tak lupa sblm pulang, kupesankan, lain kali bolehlah meminta ijin dulu sblm memetik, untuk kesantunan.

nishiHari yg akan datang, sungguh diluar dugaan. Yg datang bergelombang2. Dari kelompok A, berganti dg kelompok B, dn seterusnya. Bahkan mereka bertambah professional, membawa tas kresek hitam sbg wadahnya. Pesan saya utk memetik yg matang dan meminta ijin trlbh dahulu, lewat begitu saja. Untuk mengingatkan kembali, rikuh rasanya, krn mbak di dapur bilang, biarkan saja daripada kikir dibilang mereka. Tapi tak tahan juga, anak yang masih lentur dan mudah dibentuk ini, harus mendengar isi hatiku. Lagi, sambil menunggu mereka turun dn melihat ranting, bunga, dan dedaunan yang berjatuhan, aku mengajukan kesepakatan. Jadwal kunjungan, hari dan waktu per kelompok, ketua kelompok yg bertanggung jawab minta ijin, dan jumlah biji yg bisa di bawa pulang, dan larangan membawa tas plastik. Satu dua kelompok, khususnya yg berasal dari tetangga dekat, mematuhi kesepakatan yg kita buat. Tapi banyak yg lain tidak. Sehingga kelompok yg patuh ini harus menggigit jari, karena buah telah habis dirampat kelompok lain pagi harinya. Bahkan, geli kulihat, krn tdk diperkenankn membwa tas plastik, beberapa anak memasukkan ujung bawah kaos atasan ke celana, sebagai kantong buah yang aman dn memuat banyak. Cerdas juga! Anak2ku sudah terbiasa dg kondisi itu, dimana mrk tak boleh berharap byk dari buah pohon yg tumbuh dirumah mereka sendiri. Mereka tak lagi keberatan, akupun tak lagi keberatan…

Hanya saja, ketika musim panas kemarin, melihat ada buah Pir Jepang ( Nishi) yg dijual dengan cara di letakkan di luar garasi seorang penduduk, terbungkus dalam plastik dan sudah ditimbang, aku sontak heran. Buah itu menurut tulisannya, dijual, dg harga ¥200 per kilo(bungkus)nya. Tidak ada penunggunya. Pembeli dipersilahkan memasukkan uang pas di kotak yg tersedia. Garasi itu di pinggir jalan, bersebelahan dengan kebun, berseberangan dg satu buah rumah. Menengok sekeliling, wilayah terlihat sepi, tak ada warga yang berseliweran. Hanya sesekali kendaraan melintas di jalan. Target yang empuk untuk yang berniat curang. Tapi itu tidak terjadi disini, tidak terjadi…

Nishi itu, entah siapa penjual atau empunya, selalu disitu ketika musimnya tiba..menjadi saksi dipegang teguhnya nilai kepercayaan dan kejujuran sesama…mereka paham, masing2 individu disini tak mungkin mengambil yg bukan miliknya, meski mereka tak hafal apapun dalil agama..

avatar kurnia atiullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 28, 2013 by in kultur, kurnia atiullah, Pengalaman Sehari-hari, Pokoknya Cerita!, TT 2012 and tagged , , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: