Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

22-12-2013

Hari ini Saya sengaja datang telat 15 menit! Efeknya adalah: sampai di lorong lab-berpapasan dengan rekan-rekan,berbondong-bondong mereka bergerak keluar ruangan. Ah! Okamoto San terlihat menghampiri Saya dan berkata, “Nisa San, *nani..nani..iku?”. Oh, iya iya, aku ikut! Bergerak masuk ke dalam lab, melepas jaket musim dingin lalu mengarah keluar lab. Otani san masuk ke lab, dan mengingatkan, “ニサさんそとにいく”. Kamu ngerti artinya? jujur, Saya gak ngertiii…tapi melihat Otani San sedang mengenakan jaket musim dingin dan menunjuk ke arah luar jendela menghasilkan rumus “Nisa,kita kan pergi keluar, Ayo dipakai lagi jaket nya”. WEKS…dipakailah kembali jaketnya dan Saya hanya ketinggalan satu menit dari Otani san. Tapi satu menit memang begitu berarti, yang artinya, rombongan sudah hilang semuaa…huaaaa..baru sadar, ternyata nani nani nya Okamoto san itu sama persis dengan ucapannya Otani san. SOTO dan SOKO itu berbeda yaah..

9.15 Saya ketinggalan rombongan dan 9.30 akhirnya sampailah Saya di TKP,hehehe…Lokasinya masih di kawasan kampus Universitas Hiroshima. Ruang terbuka hijau yang di dalamnya mengalir sungai kecil,mengalir dari arah utara ke selatan kampus. Ternyata ini adalah bagian awal dari aktivitas teman-temanku.

Image

Di bawah naungan WAKU PRO, terbukalah link antara universitas dengan sekolah. Sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, lab kebumian tempat Saya bertugas, memberikan layanan edukasi kepada para siswa smp. Bentuk pelayanan yang diberikan ada 4 macam, yaitu school science laboratory, junior science school, science lecture dan terakhir adalah science square for elementary school teacher.

Khusus kegiatan hari ini, Minggu 22 Desember 2013, adalah bagian dari rangkaian kegiatan junior science school, semacam workshop campur aduk dengan kuliah umum. Pembicaranya adalah Professor Hiroshi Yamazaki Sensei. Bertempat di lab C320 Fakultas pendidikan, beliau menjelaskan salah satu topik kebumian; Lapisan Sedimentasi dan Pembuatan prepharat batuan Chart.

NAH! itulah sebab, siswa yang hadir diajak untuk mengambil sampel lapisan tanah di pinggir aliran sungai ruang terbuka hijau kampus Hirodai. Siswa yang berpartisipasi ada 16 orang, variasi dari kelas 1 sampai 3 SMP. Ada 6 titik sampel lapisan sedimen yang diambil, disesuaikan dengan jumlah kelompok.

Beginilah aktivitas pengambilan sampel.

Image

Tidak mau berlama-lama, setelah semua sampel terangkut, rombonganpun kembali bergerak menuju lab C320. (salut untuk nihonjin, Saya membayangkan rempong nya ngurus siswa kalau harus beraktivitas di luar kelas, terutama dari mentertibkan siswa yang bercanda-canda, sampai beneran narik siswa yang gerak badannya lambat, wow..disini gak ada kejadian begituu)

Image

Tiba di lab, kembali siswa duduk berkelompok dan mulai menggambar lapisan sedimen yang ada pada sampel. Menggambarnya di kertas milimeter blok dengan memperhatikan skala.

ImageImage

Ada bagian yang sulit, yaitu menentukan sampel  berdasarkan skala wenworth.

Image

ImageImage

Menurut Saya, itu aktivitas yang sulit. Maka dari itu, disertakan pula 4 orang tutor, mahasiswa master bidang kebumian. Mereka lah yang membantu mengarahkan siswa untuk bisa memutuskan kategori tanah dan memasukkan kedalam gambar lapisan sedimentasi di atas kertas. Penggunaan pensil warna dilakukan untuk membantu pengamatan lapisan sedimen. Gradasi warna sangat diperlukan untuk menunjukkan perbedaan lapisan tanah dari permukaan paling atas sampai permukaan paling bawah.

ImageImage

Eh, tapi memang dasar anaknya semangat yah, dan karena dibantu oleh tutor yang merupakan teman-teman lab aku itu, akhirnya jadi juga gambar lapisan sedimentasi tanah.

Setelah semua peserta menyelesaikan membuat sketsa lapisan tanah, gambar tersebut dikumpulkan, diperbanyak dan kembali dibagikan hingga semua siswa bisa mengamati 6 sketsa gambar dengan lebih detil.

Masuklah kami ke dalam forum diskusi. Mencoba mengumpulkan semua sketsa dan membuat satu sketsa baru, titik 1,2,3,4,5 dan 6 digabung menjadi 1 sketsa besar.

Sulit! menurutku…Tapi entahlah, mari kita lihat.

ImageImage

Ah, ternyata memang cukup sulit untuk kami berpikir holistik, memadukan satu sketsa dengan lainnya. Kendalanya adalah siswa awalnya mencoba mengambar sedetil-detilnya, dan ketika digabungkan,siswa lain menjadi kesulitan untuk membaca gambar yang sudah kita buat. Aku melihat teman-temanku mencoba mengarahkan para siswa untuk setidaknya menggabungkan lapisan yang umum saja. Meski tak banyak siswa yang bisa menggabungkan sketsa itu. Aku juga mendengar siswa menjawab pertanyaan temannya “ぜんぜんわからないalias zen zen wakaranai” yang artinya “Aku sama sekali tidak mengerti”.

Image

Namun aku melihat Yamazaki sensei mencoba untuk memadukan sendiri sketsa-sketsa tersebut, sementara siswa masih dalam tahapan berdiskusi dengan para tutor.

Image

Tak lama kemudian, Yamazaki sensei menyodorkan jawabannya. Saya pikir ini adalah langkah yang tepat, ketika siswa memang sudah tidak bisa, dan mengingat bahwa butuh keahlian untuk memadukan gambar-gambar tersebut, maka menyodorkan jawaban harus dilakukan.

Image

Ah, わかった、wakatta, Aku mengerti, Ujarku dalam hati. Semua siswa pun terlihat mengerti,mereka mulai bisa menghubungkan titik 1,2,3,4,5 dan 6, berikut hubungannya dengan arah aliran sungai.

Berikutnya Yamazaki sensei menjelaskan tentang lapisan tanah secara vertikal, mengapa semakin ke bawah permukaan tanah, butiran tanah semakin kasar? Namun mengapa justru semakin ke atas permukaan tanah, warna tanah semakin gelap?.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.00, tapi aktivitas belum selesai. Puas dengan mempelajari urutan lapisan tanah atau sedimentasi, berikut karakternya, kami masih memiliki aktivitas membuat preparat dari batuan Chert sebagai contoh batuan sedimen. Berbicara tentang tanah, memang tidak lepas dari batuan, karena tanah berasal dari batuan yang telah melunak sekian ribu tahun.

Image

ImageImageImageImage

Kegiatan WAKU PRO pun berakhir di jam 13.00. Siswa pun diperbolehkan membawa sampel batuan chert untuk dibawa pulang ke rumah.

Image

Saya mencoba menggali ingatan Saya, apakah ada kegiatan semacam ini dilaksanakan di Indonesia?. sebuah program pelayanan masyarakat yang fokus pada bidang edukasi siswa, mendukung siswa untuk mengenal sains lebih dekat diluar aktivitas sekolah. Siswa yang menjadi anggota WAKU PRO sama sekali tidak dipungut biaya, mereka cukup mendaftar, hadir dan bebas menggunakan alat praktikum kampus. Saya pun melayang pada keinginan untuk mengikutsertakan anak Saya pada aktivitas semacam ini.

Ada beberapa materi yang mungkin cukup sulit untuk dicerna oleh anak usia 12-14 tahun, mengingat ini adalah materi khusus yang biasa diberikan pada tingkat universitas. Namun disitulah menariknya. Terkadang, kita menemukan gap materi. Faktornya banyak, salah satunya, karena diajar oleh guru yang berbeda, maka pemahaman siswa dalam satu sekolah, atau bahkan beda sekolah, tentunya berbeda. Tergantung dari keahlian masing-masing guru dalam memberikan ilmu. Maka sebenarnya gap materi itu bisa diatasi dengan turun tangannya pihak universitas, yang memiliki ruang lebih leluasa dalam mengkaji suatu materi, ke siswa sekolah. Tujuannya adalah, memperbaiki keilmuan yang siswa terima, dan dalam jangka waktu yang lebih panjang, membuka wawasan siswa, syukur-syukur siswa bertambah minatnya pada pelajaran tersebut.

Katakan saja Saya, seandainya menjadi peserta WAKU PRO, maka beberapa tahun kedepan, saat Saya akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Saya tidak perlu bingung mencari jurusan, karena bisa jadi, Saya akan memilih kuliah di ilmu kebumian, PTS boleh, PTN juga tidak bermasalah, karena alasannya satu, Saya suka dengan ilmu tersebut.

Dalam pengamatan Saya, di Indonesia, untuk mendapat aktivitas seperti yang dilakukan oleh WAKU PRO bisa didapatkan dengan dua hal; mengikuti olimpiade sains, baru kemudian, bila lolos, mengikuti pembekalan yang materinya setingkat Universitas. Contoh, Siswa mengikuti Olimpiade sains kebumian, saat ia lolos sampai tingkat propinsi, ia bisa mengikuti pembekalan ilmu kebumian yang dilakukan di kampus pilihan. Prosesnya sama persis dengan kegiatan hari ini, kuliah umum dan workshop yang dipandu oleh para dosen dan mahasiswa.

Dengan kata lain, untuk mendapatkan pengalaman proses pembelajaran seperti yang Saya utarakan di awal, maka siswa harus bersaing dengan ratusan siswa lainnya. Gratis siy, tapi kamu harus “pintar”.

Atau,ada cara lain. Mengikuti klub-klub sains yang sifatnya berbayar, seperti klub robotik, astronomi, dll. “Gak mesti pintar”, tapi berbayar.

Tidak menutup kenyataan, bahwa dalam menjalankan kegiatannya per satu tahun, WAKU PRO mendapatkan dana dari perusahaan MAZDA. Ah, pantas siswanya tidak harus membayar.

Berarti tinggal bagaimana para dosen termasuk para professor di Indonesia mau berinisiatif dan memperjuangkan program pelayanan masyarakat di bidang edukasi siswa sekolah diluar kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Hmmm…

About ni_lasha

Hai,aku nilasha. Tukang nulis, terutama saat kerjaan numpuk. Pelariannya adalah menulis. Pas menengok kerjaan yang masih menumpuk, kembali melarikan diri untuk menulis. Aku terobsesi menjadi populer, untuk novel yang belum terbukukan, untuk buku yang masih di awang-awang dan untuk puisi galau yang bersinergis dengan nuansa alam.

One comment on “22-12-2013

  1. Kang Ash
    December 22, 2013

    liputan kereeeeeeeeeeeeennnnn🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: