Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Kesalahan bahasa Jepang (dekimasu deshouka)

Seminggu yang lalu, aku bertemu dengan tentorku (Kane), mahasiswa S-2 jurusan biologi. Jurusan yang sama dengan suamiku. Kala itu, adalah pertemuan ke-2 kami.

Kami membicarakan banyak hal, salah satunya adalah persiapanku ujian conversation. Aku mencoba berperan sebagai seorang mahasiswa, dan Kane sebagai dosen pembimbingku.

Kuma : Kane sensei, onegai shitai koto ga aru no desu ga... (Pak Kane, saya hendak meminta meminta tolong…)

Kane : Hai. (Ya?)

Kuma : Shogakukin no suisenjo wo kaite itadakenai deshouka. (Apakah Bapak bisa membuatkan surat rekomendasi untuk beasiswa?)

Kane : Aa, suisenjo ne. Ii yo. (Ehm, surat rekomendasi ya. Baik.)

Kuma : Shikashi, shogakukin no moushikomi no shimekiri wa asatte desuga. Chokuzen no onegai dekinai deshouka. (Akan tetapi, batas akhir pendaftaran beasiswanya adalah besok. Apakah Bapak berkenan atas permintaan saya yang tiba-tiba ini?)

Tiba-tiba, Kane mengangkat tangan, tanda aku diminta berhenti. Dia mengatakan bahwa, kalimat terakhirku heng, ada yang aneh. “Lebih baik menggunakan [onegai dekimasu deshouka.] Ini lebih sopan, dan alami ketimbang [dekinai deshouka].

Aku bukan tak mau menerima masukan Kane. Hanya saja, aku teringat sejak belajar di level dasar, hingga di kelas jokyuu (advance), penggunaan masu-desu bersamaan pada satu kata tidak diperbolehkan. Aku pun mengutarakan pendapatku kepada Kane. Namun, Kane bersikeras bahwa [masu-desu] lebih sopan.

Lalu aku teringat beberapa hari sebelumnya, aku mengikuti seminar “WinWin” di kantor sahabatku di Ruusen Tower, dekat Stasiun Nagoya. Memang aku mendengar banyak di antara mereka yang menggunakan [masu-desu] pada satu kata.

Dan, akhirnya ketika ujian, keluarlah kalimat yang diakhiri dengan [masu-desu] sesuai dengan petunjuk sang tentor, dan dari pengalamanku selama di kantor sahabatku.

Kemarin, sensei mengadakan feedback ujian conversation. Dan, benar saja. Aku disalahkan karena menggunakan [masu-desu] secara bersamaan dalam satu kata. Aku tidak mengatakan itu adalah saran tentorku. Tapi aku mengutarakan pengalamanku sewaktu seminar dan sesekali juga kudengar dari staff toko elektronik di Jepang, yang sering mengucapkan [masu-desu] pada satu kata.

“Ya, memang banyak yang beranggapan semakin banyak memakai bentuk [masu], [desu] bahkan kalimat bentuk sopan ganda bahkan triple, akan semakin sopan. Saya sendiri banyak menemui kesalahan penggunaan bahasa ini di kalangan dunia/industri service. Tapi tetap, secara gramatikal itu salah. Jadi pakailah [dekinai deshouka], bukan [dekimasu deshouka].”

Heem…, jadi meski orang Jepang sekalipun, terkadang mereka bisa salah menggunakan bahasa. Terutama yang tidak berkecimpung di dunia literasi bahasa Jepang. Atau mungkin, jika kesalahan demikian semakin sering dipakai di dunia kerja, bukan tidak mungkin aturan dalam gramatikal bahasa Jepang bisa berubah.

Ok, hari ini harus tetep semangat untuk ujian newspaper reading. Ganbarimaassuu!!!!!!

About Kuma

Mantan pegawai. EO sekaligus manager di CV. Kreasi Presentasi (www.KreasiPresentasi.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 28, 2013 by in Bahasa Jepang, Istikumayati, Nihonggo and tagged , , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: