Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Belajar Bahasa Inggris Kok Di Jepang ?

Phoe Prehantoro
SMAN 1 Widodaren, Ngawi, Jawa Timur
(Catatan Kecil : Satu Bagian dari Dunia untuk Belajar tentang Banyak Bangsa)
Dituturkan oleh Phoe Prehantoro di blog http://phoeprehantoro.wordpress.com

phoeJudul di atas adalah pertanyaan spontan dari teman-teman dan murid saya pada tahun 2012 lalu ketika mereka tahu bahwa saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Teacher Training 2012 ke Jepang melalui jalur beasiswa Pemerintah Jepang. Biasanya, pertanyaan itu selalu saya jawab dengan jawaban serupa: bahwa saya akan belajar tentang Pendidikan bahasa Inggris di Jepang dan bukan tentang pengetahuan linguistik bahasa Inggrisnya, dengan kata lain, saya tertarik untuk mengetahui bagaimana sistem pendidikan nasional ‘memperlakukan’ bahasa Inggris serta problematika dan solusi dalam pendidikan bahasa Inggris di Jepang. Sehingga ke depannya, ketika saya kembali ke tanah air saya bisa berbagi ke rekan-rekan guru di Indonesia.

Pada tanggal 1 Oktober 2012, terbanglah saya ke Negeri Sakura, tepatnya ke kota Sapporo di pulau Hokkaido, pulau paling utara di Jepang yang terkenal dengan saljunya yang melimpah dan musim dingin yang hampir 6 bulan lamanya. Selama 6 bulan pertama di Sapporo, saya belajar bahasa Jepang di Hokkaido University (Hokudai), sebuah universitas yang menurut saya international atmosphere-nya terasa sekali. Di Sapporo juga, saya pertama kali menikmati musim dingin penuh salju. Selesai program bahasa Jepang, pada tanggal 18 Maret 2013 saya pindah ke kota Asahikawa untuk menempuh studi (training) selama setahun di Hokkaido University of Education (HUE), di bawah bimbingan Prof. Hiroki Ishizuka yang sungguh baik karena telah mengijinkan saya memakai nama depan beliau untuk nama anak kedua saya yang lahir pada September 2012.

Saat menulis coretan ini, terhitung baru satu semester saya belajar di HUE Asahikawa. Walau begitu, saya sudah merasa bahwa ternyata jawaban saya atas pertanyaan teman atau murid dulu ternyata perlu dikoreksi. Ternyata, saya “tidak hanya” cuma belajar tentang problematika dan solusi dalam pendidikan bahasa Inggris di Jepang ! Apa yang saja yang saya pelajari?

Pertama, tentu saja saya menjadi semakin tahu tentang bahasa Jepang, kultur Jepang, orang Jepang dan semua tentang Jepang. Sebanyak mungkin hal pastinya saya pelajari. Ini tentu merupakan oleh-oleh yang berharga bagi anak didik saya dalam pengembangan karakter dan wawasan mereka.

Kedua, sesuai tujuan utama program ini, saya jadi lebih tahu problematika dan solusi dalam pendidikan bahasa Inggris di Jepang, yang harapannya bisa juga dijadikan sebagai ‘pendekatan atau pandangan lain’ untuk pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Keikutsertaan saya di kelas-kelas mahasiswa S1 memberi saya banyak pengetahuan tentang pola kaderisasi guru bahasa Inggris di Jepang yang tentunya banyak hal berbeda dengan masa belajar saya di tingkat sarjana dahulu, serta kebijakan-kebijakan pemerintah atau universitas di Jepang misalnya perubahan kurikulum, skema praktek mengajar, perekrutan guru pemerintah, dan lain-lain.

Ketiga, yang menyenangkan bagi saya sebagai seorang guru Bahasa Inggris SMA adalah bahwa saya bertemu dan bisa belajar dengan para penutur asli bahasa Inggris. Di kampus dan kota saya, dan pastinya kampus-kampus dan kota-kota lain di Jepang, banyak sekali pengajar yang asli penutur bahasa Inggris (native). Di HUE Asahikawa, ada Ibu La Fey dari Amerika Serikat dan juga Bapak Fan dari Kanada yang menikah dengan Ibu Rikako. Dengan kedua dosen tersebut, saya sering berdiskusi tentang problematika pendidikan di Amerika Serikat dan Kanada. Terkait bahasa Inggris untuk usia dini yang menjadi ketertarikan saya, saya senang berbincang dengan Kohei, putra Bapak Fan yang berusia 6 tahun yang fasih berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Kanada-nya. Selain itu, ada juga mahasiswa dari berbagai negara dan ALT (Assistant Language Teacher) di sekolah-sekolah di Jepang yang sering membuat saya merasa seolah sedang berada di belahan dunia lain dan bukannya sedang berada di Jepang.

Keempat, saya juga belajar pengetahuan linguistik bahasa Inggris walaupun saya berada di Jepang. Di kelas mahasiswa S2 yang saya ikuti yang bagi saya merupakan kelas paling serius semester, kami membahas paragraf per paragraf dari buku-buku karangan para ahli linguistik dan ahli pengajaran bahasa kedua. Semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris. Kelas-kelas macam Syntax, Old-English, bahasa Latin, ada di universitas saya sekarang. Saya sangat senang. Di luar kelas, dengan Daily dan Lauren juga Ibu La Fey dan Bapak Fan, saya selalu meminta mengoreksi tulisan dan pengucapan saya dan mereka dengan senang hati senang melakukannya. Ternyata, meskipun saya sudah 7 tahun mengajar Bahasa Inggris, pengucapan saya banyak yang kacau.

Dan kelima, saya bisa belajar budaya bangsa-bangsa lain di dunia. Di banyak kota di Jepang, biasanya akan ada organisasi internasional yang disokong pemerintah. Di Sapporo, bisa ditemukan banyak sekali organisasi yang dibentuk masyarakat setempat untuk membantu orang asing yang tinggal di sana. Keberadaan masjid di Sapporo juga menyediakan kesempatan bagi sesama muslim dari berbagai belahan bumi untuk bersilaturahmi. Biasanya pemerintah kota setempat juga aktif dalam menggalang program sister-cities dengan kota-kota lain di lain negara. Di Asahikawa, saya paling senang menghabiskan waktu di gedung Asahikawa International Center dimana banyak sekali display benda-benda budaya dan pameran dari sister cities-nya, misal: Bloomington (AS), Sakhalin (Rusia), dan lain-lain, dan bertemu bermacam orang dari bermacam kewarganegaraan, misal: Nepal, Mongol, Rusia, China, Kanada, AS, Vietnam dan Korea. Terlebih jika sedang ke Sapporo, lebih banyak orang yang bisa saya temui. Berbincang dengan mereka dengan bahasa campuran antara Jepang dan Inggris selalu mengasyikkan dan menantang.

Jepang dengan segala hal menarik tentangnya (meski pastinya adanya kurangnya juga) telah membuat banyak orang dari berbagai belahan dunia mendatanginya untuk berbagai alasan, baik itu untuk belajar, untuk bekerja atau sekedar jalan-jalan. Saya dulu membayangkan bahwa kalau saya pindah dari kota besar (Sapporo) ke kota yang lebih kecil (Asahikawa), saya akan kehilangan suasana internasional yang ada di kota dengan orang-orang asingnya. Ternyata, tidak. Hampir semua kota di Jepang menyediakan suasana itu, asal kita aktif berinteraksi dengan orang lain. Jepang, satu negara untuk belajar banyak bangsa di dunia. Begitulah apa yang saya simpulkan dari dua pertiga perjalanan saya dalam menempuh program ini.

2 comments on “Belajar Bahasa Inggris Kok Di Jepang ?

  1. Yati Widyastuti
    April 10, 2014

    waktu ikut tes tertulis di teacher training dulu,
    mengerjakan soal matematika and bahasa jepang jg???? please reply

    • Gilig Guru
      February 24, 2015

      Maaf terlambat balas, pada masa saya tes beasiswa hanya BAHASA, tidak ada yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: