Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Menyerah Selangkah Sebelum Titik Bahagia

Dituturkan oleh Phoe Prehantoro di blog http://phoeprehantoro.wordpress.com

Ada banyak kanji yang saya sukai. Kali ini, saya ingin mengulas sedikit tentang dua kanji yang sangat bermakna. Dua kanji yang sangat indah, yang saya kenal lewat sebuah film berjudul Himitsu Hostess. Film tersebut diangkat dari kisah nyata tentang seorang geisha tunawicara yang menjadi geisha nomor satu di Tokyo. Oh ya, kalau kita mendengar kata ‘geisha’, ada baiknya kita hunting dulu di wikipedia.com tentang apa itu geisha, karena definisi geisha ternyata cukup rumit juga dipahami, dan tidak sesederhana bayangan saya dulu sebelum datang ke Jepang.

Dikarenakan dia tunawicara, sang geisha yang bernama Aiko ini menggunakan keahlian seni kanjinya untuk mendapat tempat di hati para tamu. Para tamu dan teman-temannya senang dengan caranya berkomunikasi: dengan kertas dan pena. Dengan cerdas dan senyum yang ramah, dia membuat permainan dan mendengar curhat para tamu, lalu memberi solusi dengan permainan seni kanjinya. Dia terkenal, namun belum menjadi yang nomor satu, hingga terjadilah sebuah perubahan besar dalam perjalanannya sebagai manusia dan sekaligus membuatnya menjadi yang nomor satu di Tokyo, yang berarti nomor satu di Jepang.

tsurai kanjiSeorang kakek yang menjadi tamu tetap di tempat Aiko bekerja mengirim SMS kepadanya bahwa dia pamit karena akan pergi selamanya (bunuh diri) karena semuanya baginya sudah selesai. Sang kakek ini memang dulunya seorang kontraktor bangunan yang terkenal, namun sedang mengalami kesulitan keuangan di perusahaannya. Mendapat SMS tersebut, Aiko segera mencari kakek tersebut. Di atas jembatan megah yang dulu dibangunnya, sang kakek bersiap untuk melompat ketika Aiko keluar dari taksi. Mereka berdua saling tersenyum.

shiawase kanji

Aiko lalu mengeluarkan kertas dan penanya, dan menyodorkannya pada sang Kakek. Sang Kakek tersenyum kecil, mendesah pendek, lalu mencoretkan 7 garis (atau stroke atau disebut juga langkah). Harap lihat ilustrasi di atas. Kanji itu berarti ‘tsurai’ (kacau, berantakan, dan sejenisnya). Melihat kanji itu, sang Geisha Aiko mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu, dia tersenyum, meraih pulpen dari tangan sang Kakek, dan menambahkan satu stroke/langkah/coretan di bagian atas kanji ‘tsurai’ hingga menjadi sebuah kanji yang berbeda. Lagi-lagi, harap lihat ilustrasi di atas lagi.. hehe..

Dengan satu goresan / langkah saja, kanji ‘tsurai’ telah berubah menjadi kanji ‘SHIAWASE’ yang berarti ‘ kegembiraan / kebahagiaan ’..!! Sang Kakek tersenyum lebar, berterima kasih pada Aiko, dan mengurungkan niatnya bunuh diri. Dan saya, saat menonton adegan ini sekitar 4 bulan lalu, merasa sungguh terharu karena waktu itu saya sedang di fase honey-moon studi di Jepang (masih merasa bahagia karena baru saja melewati proses seleksi beasiswa yang panjang dan melelahkan.. hehe).

Beberapa minggu lalu, sejak mendapat kiriman status dari Pak Ahmad dari Surabaya tentang bocah Tasripin, saya sering membaca kisah si bocah piatu Tasripin menghidupi ketiga adiknya yang masih balita. Saya terharu sekali ketika membaca berita terbaru akhir-akhir ini bahwa banyak bantuan mengalir kepadanya, dan fakta paling akhir, ayahnya sudah tidak perlu lagi bekerja di Kalimantan. Keluarga itu sudah berkumpul kembali.

Dan saya teringat cerita sang Geisha Aiko. Saya membayangkan, jika Tasripin menyerah, tidak mau lagi bekerja di sawah untuk adik-adiknya, lalu adik-adiknya dikirim ke panti asuhan, mungkin keluarga itu tidak akan berkumpul dengan bahagia seperti sekarang. Saya tidak tahu berapa ribu langkah telah ditempuh si bocah Tasripin demi adik-adiknya. Yang saya tahu pasti adalah bahwa Tasripin hanya tetap melangkah dan melangkah dan melangkah. Dan sampailah dia di titik/poin ‘shiawase’ ketika seorang jurnalis kesasar melihatnya, lalu menulis kisahnya dan dipublikasi. Lalu bola menggelinding, dan jadilah Tasripin, tiga adiknya, kakaknya dan ayahnya seperti sekarang. Berkumpul kembali dalam keadaan yang lebih baik.. Kadang saya berpikir bagaimana jika si bocah Tasripin ngambek pada hari itu dan memutuskan untuk lari saja dari keadaan. Apakah jurnalis baik hati tersebut akan tetap menemukannya? Hmm..

Menjelang lebaran, televisi berisik sekali menyiarkan kemacetan di Pantura, dan di layarnya selalu akan terpampang: H-7 Lebaran, H-3 Lebaran, H-1 Lebaran…

Saya lalu ingat juga tentang sepupu saya yang juga berpredikat ‘ngeyel kelas akut’, Kunnang, yang berkali-kali gagal ujian sertifikasi IT di Hongkong dan Australia (biaya sendiri lagi!), tapi ya tetap saja ‘ngeyel’ mengambil ujian itu lagi. “Insyaallah, ujian yang akan datang adalah yang terakhir, Dik,” katanya di tiap kali pengumuman bahwa dia gagal lolos ujian. Dan, di ujian yang keempat kemarin, akhirnya dia lolos. Saya pun ingat murid saya yang juga ‘biang ngeyel kelas parah’ dari UNS, Yaenal, yang selalu ngeyel dengan proposal-proposal event Taekwondo-nya, dan kegiatan aneh-anehnya.

Bicara tentang diri saya sendiri, seringkali saya pun merasa capek dengan beberapa usaha yang saya lakukan, ataupun kewajiban- kewajiban yang sedang terbebankan pada saya. Kadang pun saya ingin berhenti saja dari usaha yang yang telah saya upayakan. Tapi, ketika saya berpikir seperti itu, pada saat yang sama, terlintas pula sebuah pertanyaan: `Jangan-jangan, saya berhenti di L-1 SHIAWASE.. (langkah minus satu dari Shiawase)…`

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 6, 2013 by in Ideas and Thoughts, phoe prehantoro and tagged , , , , , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: