Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Alat Peraga Berbasis BBM

Kalau kamu sedang berada di tengah terminal bis kota, kemudian merasakan perut melilit akibat lapar, dan terlihat jajaran pedagang kaki lima menjajakan gorengan sedap serta rumah makan tentu dengan hidangan yang tak kalah menariknya, akan kemanakah kamu melangkah? menghabiskan uangmu yang hanya tersedia 2000 rupiah saja.

(hehehe..maaf, informasi keuangan baru dilontarkan belakangan..)

gorengan murah meriah

Yang pasti siy,makanan yang bentuknya gorengan seperti itu bila ditinjau dari segi kesehatan, tidak direkomendasikan oleh para ahli gizi , meski jujur, Saya pribadi penikmat gorengan pinggir jalan, hehehee

Nah, sekarang bagian seriusnya yooo.

OK, Satu hal lagi yang Saya terima dari berinteraksi dengan Laboratorium Kebumian di kampus ini adalah Saya mulai berpikir bagaimana Saya bisa mengikuti cara berpikir teman-teman ini untuk mampu membuat alat model peraga dberbasis BBM. BBM itu singkatan dari Bermutu, B………dan Murah.

Sebelum lanjut, Saya tawarkan lomba menulis isian B yang ada ditengah,yang kira-kira cocok untuk tulisan Saya ini. OKe, berhadiah, senyuman…xixixi

Mengajar itu tidak lepas dari menggunakan alat peraga, dan percaya tidak percaya, yang berarti kalian harus mempercayainya…adalah…ternyata alat peraga yang biasanya kita temui di sekolah-sekolah, baik itu di laboratorium IPA, IPS dan bahasa,  di kampung dan di kota ( menjiplak lirik lagu peyeum Bandung,hihi) harganya tidak sangat murah saudara-saudara…

Saya pernah melihat katalog alat-alat percobaan buatan perusahaan Jepang yang ada di koleksi lemari perpustakaan tutor Saya ; mahasiswa Doktor bidang Kebumian Kampus pendidikan sains,Pendidikan sekolah, di universitas ini. KAtalog itu isinya ribuan alat peraga,harganya sudah pasti variatif, dan tentunya melangit.

Jangan pula di bandingkan dengan harga alat-alat peraga yang beredar di Indonesia, karena sebenarnya, bila diubah ke kurs Rupiah pun, harganya sama saja. satu set koleksi batuan beku, sedimen dan metamorf yang kecil saja senilai 1000 yen, dan itu tidak jauh berbeda dengan harga koleksi batuan yang sama yang Saya beli di museum Geologi di Bandung.

Dulu, Saya selalu terpukau dengan kehebatan sekolah-sekolah megah yang berhasil mensejatai sekolahnya dengan ribuan alat peraga.

Karenanya  Saya kaget ketika mengikuti kuliah mahasiswa master yang di komandoi oleh sensei Saya, aktivitasnya justru membuat alat pembaca spektrum elektromagnetik dari berbagai versi, dari kardus momiji manju, tabung bundar potato chips dan atau kepingan CD bekas.

foto 3

Ah, alat pembaca spektrum yang versi perusahaan juga ada, bentuknya seperti teleskop kecil, seperti senter tabung.  Harganya 8000yen.

Nah, kamu lihat gambar dibawah ini, dan tentukan, apa yang menarik untuk saya kaji berikutnya ??

geomorfologi

Perhatikan benda putih di atas sepatu bot!

Iyya, itu adalah alat peraga yang dibuat oleh teman aku, Iwata san, guru kebumian di sma di Hiroshima city.

Dari alat peraga itu, kita bisa belajar mengenai bentuk permukaan bumi, berikut ketinggiannya, serta proses cutting line bila terjadi patahan. Saya ingat Iwata San mengambil alat peraga ini dan mengajarkan kepada Saya tentang proses cutting line untuk membantu Saya memahami diagram patahan yang aseli, itu diagram susah abnget dan berhasil buat Saya jadi mahluk paling bodoh di kelas eksperimen geomorfologi,untung Saya masih sedikit manis, sedikit siy…hahaha..

Dan satu lagi, alat peraga yang hari ini Saya dapatkan dari Yamamoto San, guru kebumian di SMP Mihara.

Tarraaa….

tampak depan

televisi kah? ayo ditebak….!

Itu tampak depan, nah sekarang akan saya sodorkan tampak belakang..

foto 6

Nah, kira-kira alat apakah itu??

Ini ada tampak lainnya, coba disimak yah..

foto 5

bagaimana? sudah kah paham?

Saya 2 kali bertanya ke Yamamoto san pun, masih tidak mengerti…alat apakah itu?

hehe..iya lah, dia menjelaskan pakai bahasa jepang..akhirnya ia mengambil kamus

“Front”…haah? maksudnya apaan siy? kali inipun aku masih tidak bisa memahami…

“Hot and cold air”

“Jyaaa….yattaaa…” seruku dalam hati.

Itu adalah alat yang terkait dengan bidang meteorologi, untuk menunjukkan perubahan udara, panas dan dingin.

Aku menghubungkannya dengan gejala yang ditimbulkan kalau kamu membiarkan air mineral botol dari kulkas freezer ke suhu ruangan, pasti kamu temukan butiran-butiran embun kan?

Nah, kira-kira maksud penjelasan hold and cold air ya seperti itu. Untuk lebih lanjutnya, bisa ditanyakan ke guru-guru fisika di sekolah masing-masing.

Kemudian ada alat berbentuk kotak yang sekilas seperti spica gel, nah itu alatnya ditaruh di bagian atas kotak untuk menjaga kekeringan udara yang masuk sehingga percobaan tidak gagal.

Dan ini ada foto yang terakhir,

foto 7

Ternyata alat itu dibuat dari kotak kardus pembungkus  layar monitor komputer saudara-saudara.

Okeh, bagaimana dengan kalian? Disini, di negara maju yang kualitas pendidikannya kelas dunia, urusan pembuatan alat peraga pun masih bertahan di jenis alat peraga berbasis konsep BBM, Bermutu, Bagus dan Murah.

Akhirnya, aku dapat isian B yang kedua !

About ni_lasha

Hai,aku nilasha. Tukang nulis, terutama saat kerjaan numpuk. Pelariannya adalah menulis. Pas menengok kerjaan yang masih menumpuk, kembali melarikan diri untuk menulis. Aku terobsesi menjadi populer, untuk novel yang belum terbukukan, untuk buku yang masih di awang-awang dan untuk puisi galau yang bersinergis dengan nuansa alam.

2 comments on “Alat Peraga Berbasis BBM

  1. Viv
    August 11, 2013

    pelajaran yg berguna dr Jepang..keren tulisannya..sukaaa

  2. Kang Ash
    August 2, 2013

    kereen,,,,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 2, 2013 by in Geografi, Ideas and Thoughts, Nissa Maulia.
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: