Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Lab

Ini saatnya saya berbicara tentang situasi baru, yaitu lab. Setelah 6 bulan menempuh pendidikan bahasa jepang secara intensif, setiap peserta teacher training akan berpindah aktifitas.

Saya misalnya, bila sebelumnya berada di bawah naungan Hiroshima University International Center untuk belajar bahasa (yang kemudian, ruangan berkode K308 menjadi idola saya dan teman-teman),maka sekarang pusat aktifitas saya berpindah ke Kampus Pendidikan Sains.

Kampus pendidikan sains ini membawahi banyak jurusan, terutama yang terkait dengan Ilmu Pengetahuan Alam. Termasuk salah satunya adalah Pendidikan Ilmu Kebumian dan Astronomi.

Nah, apa saja yang biasanya kami lakukan di Lab? Meskipun sebenarnya tulisan ini ditulis di Bulan Maret,musim Haru Yasumi atau libur musim Semi dimana kampus tidak sedang melakukan kegiatan perkuliahan, dan itu berarti Saya juga ketika menulis tulisan ini dalam keadaan setengah menjalani proses…hehe. Saya beranikan diri untuk menceritakan pengalaman saya terkait dengan aktifitas di Lab.

1. Suasana Laboratorium. Ruangan yang Saya tempati ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kantor. Bedanya, isinya adalah mahasiswa semua. Luasnya cukup besar,dibandingkan dengan rekan Teacher Training yang lain. Kok tahu? hehe, pernah main ke Lab nya Vivien dan ternyata memang ruangan Saya bisa diisi sekian 10 orang mahasiswa berikut meja kerja dan dapur kecil.

Labnya rapih, hari senin semua bersih2,kecuali saya...foto diambil hari selasa.

Labnya rapih, hari senin semua bersih2,kecuali saya…foto diambil hari selasa.

2. Rutinitas Seminar. Saya termasuk kategori beruntung, karena sejak awal Oktober tahun lalu, Professor selalu melibatkan saya dalam seminar mahasiswa program master. Seminar ini sifatnya seminar kecil, biasanya kami berdelapan berkumpul di ruangan sensei, kemudian masing-masing mahasiswa akan mempresentasikan semacam penelitian yang sedang mereka lakukan saat itu, kemudian setelah presentasi, kami diminta untuk memberi masukan.

Bila memungkinkan, pada pertemuan berikutnya, (kelas seminar ini selalu diadakan 1 kali setiap minggu), mahasiswa yang bersangkutan bisa mengulang mempresentasikan hasil perbaikan dari penelitiannya.

3. Bahasa. Nah, ini dia yang menjadi kelemahan Saya. Disini, cukup teratur dalam penggunaan bahasa. Kepada sensei, senpai dan teman bahkan mungkin teman dekat, aturan berbahasa sangat diperlukan. Ingin melanggar aturan? maklum, biasanya kan di negara kita, aturan dibuat untuk dilanggar. Hehe… JANGAAAN! Jangan pernah mencoba untuk melanggar aturan berbahasa. Dimana bumi dipijak, selama aturan itu tidak melanggar Hak Asasi Manusia, maka taatilah. Bila hasilnya berantakan, nah, itu adalah bagian dari proses. Ini pun menulis blog, dalam keadaan embarrassed dengan kesalahan berbahasa. Alih-alih ngikutin orang Indonesia yang sudah tinggal di Jepang lebih dari 4 tahun, sebelum meninggalkan ruangan,Saya ikuti beliau, “Otsukaresamadesu” diucapkan kehadapan para senpai. Ternyata, aturan berbahasanya salah. Huhuhu….kebayang dong, dalam kategori junior, Saya memperlakukan senpai seperti itu. Pantes, kayaknya dunia serasa redup setiap kali Saya mengucapkan kalimat itu, 3 kali pula, bahkan pertama kalinya Saya melakukan uji nyali untuk pamit pulang, dihadapan 6 orang senpai. Hoeee….

Oke, meskipun demikian, sebenarnya, sepertinya (lebih tepatnya,berpikir positif), Orang Jepangpun paham bagaimana foreigner berbahasa, bisa jadi mereka memaklumi kesalahan kita. Karena itulah, Saya pikir, tidak perlu mencoba melanggar aturan berbahasa, dan kalau memang sudah mentok dengan model berbahasa sensei,senpai,teman…dicoba saja untuk berbicara dengan bahasa inggris. Misalnya begini, aturan dasarnya, kalau mau ngobrol “senpai,apakah sensei A akan pergi ke luar negeri?” aturan bakunya adalah “

先生Aはかいがいへいらしゃいましか?”, ditulis romaji nya , “sensei A wa kaigai e irashaimasuka?” . Kata yang di Bold itulah yang harus digunakan untuk sensei. Kalau sampai kita menggunakan kalimat

“先生Aはかいがいへいきますか?”,ditulis romajinya, “sensei A kaigai e ikimasuka?”, masih bisa digunakan siy, tapi ketahuan kalau kita ga paham budaya berbahasa di Jepang.

Adalagi, “先生Aはかいがいへいく?” , ditulis romaji “sensei A kaigai e Iku?”,nah ini dia nih…yang masuk kategori gak sopan.  Kalaupun Saya dipaksa oleh situasi yang menyuruh Saya untuk berbicara pola itu, maka Saya ambil cara aman. “Will Sensei A go abroad?”…..selesai.

Masalah senpainya gak ngerti, kan sama-sama malu tuh, dia malu gak bisa bahasa Inggris, Saya juga malu berbahasa Jepang salah2. Biasanya, jadi kombinasi, yang keluar sudah bukan lagi grammar, tapi kami berkomunikasi hanya menggunakan vocab atau kosa kata. Saya pakai kosakata Jepang, sang senpai pun mencoba pakai bahasa tubuh.

Okeh..

4. Aktifitas kuliah. Pada dasarnya, posisi kita adalah mahasiswa tamu untuk aktifitas perkuliahan master. Bila kita berbahasa Jepang dengan fasih, saran saya, ikuti banyak perkuliahan. Kalau tidak bisa berbahasa Jepang dengan fasih? ya tetap ambil banyak perkuliahan dooong. Xixixi… Ganbatte Kudasai. Urusan bahasa di perkuliahan, benar-benar memiliki dampak yang cukup hebat. Tapi kalau kita tidak ambil perkuliahan pun, kita akan rugi waktu. Jadi, di poin 4 ini, akan Saya berikan cabang, berupa tips dari Saya, mahluk manis yang bisa duduk manis dan memberikan senyum di saat perkuliahan ala orang Jepang:

A. Siapin tape recorder, bisa pakai HP, smartphone atau sekalian beli yang memang bisa disetting untuk merekam lebih dari 2 jam. Sampai di rumah, silahkan diulang suara sang professor.

B. Siapin Kamus. Bagus kalau punya kamus elektronik, lebih bagus lagi kalau kamus berjalan, alias orang Indonesia yang lihai dengan bahasa Jepang. Jadi tinggal nanya ke dia, tanpa harus buka hiragana atau kanji. Enggak deng, siapin kamus eketronik saja…Sebenarnya, Saya pun tidak memiliki kamus saku elektronik yang bagus itu, mungkin itulah sebabnya Saya nda ngerti bahasa Jepang yah? Oh, tapi setidaknya, disemua gadget,Saya download WAKAN, program gratisan legal dari yang menciptakan.  Jadi lolos deh, oleh sistem informasi via kampus. Terima kasih untuk Pijar,mahasiswa sastra Jepang yang saat ini sedang ikut program pertukaran mahasiswa dari Monbusho. Kalau dia baca blog ini, dan mengetahui namanya disebut, pasti dia bilang…iye iye…wkwkwk.

C. Bekali diri dengan akses internet. Kenapa? karena disaat mata perkuliahan yang kita ambil benar-benar tidak bisa dipahami, silahkan akses internet untuk mencari bahan perkuliahan. Siapkan key word untuk mata kuliah tersebut, ketik dan klik di google. Tarraaaa….. Selamat menjelajah di dunia petualangan Dora. Bahasa bisa disesuaikan, syukur-syukur bisa mengambil bahan perkuliahan dari sumber yang bisa dipercaya. Pelajarilah sebelum minggu berikunya dimulai lagi topik yang baru, jangan ditunda, karena pekerjaan menunda adalah sifatnya merugikan diri kita sendiri. (In learning to do it, because i am the victim by myself,sering nunda-nunda pekerjaan juga,hiks)

D. Jujur dalam bersikap, kalau memang tidak mengerti, ya utarakanlah kepada sensei. Yakin deh, beliau pasti mengupayakan kita untuk menjadi lebih baik. Satu lagi, kapasitas bahasa inggris professor di Jepang, kalau sudah dibilang kategori bisa berbahasa inggris, jaminan mutu, beliau bisa berbahasa inggris, at least, kita bisa berkomunikasi dengan baik. Nah, urusan satu ini memang jadi rezeki yang turun ke Saya. My sensei can speak english clearly. If there is missunderstanding, it can be predicted that i am the suspect who can`t reply the conversation completely..hihihi.

Kalau tidak jujur, nanti masalah semakin menumpuk,alih-alih, kita malah dianggap mengerti semua materi yang diberikan.

Anyway, 4 tips ini hanya berlaku untuk peserta teacher training. Dengan situasi dan kondisi bahwa kami tidak dituntut banyak seperti halnya mahasiswa program master. Kategorinya memang terlihat santai.  Dibandingkan tuntutan yang diberikan ke mahasiswa program master,apakah kamu mengira kami ini terlihat santai?.. iya,memang…😉

5.School visiting. Sebagai guru, dan tebakan saya nih, pasti kamu menulis di essay,salah satu alasan mengapa ikutan Teacher Training ke Jepang adalah karena kamu ingin mengetahui dan membandingkan seperti apa sistem pendidikan di Jepang,ya kan? ya kan?… Pastinya, akan ada program kunjungan sekolah. Berarti disitulah tempatnya kita menggali suasana sebenarnya, seperti apakah Jepang mengkader siswa-siswa untuk menjadi lebih baik.

6. Rajinlah bermain ke lab. Intinya supaya bisa bersosialisasi.

Eh, ini disambung berikutnya yah..maafkan, mau balik ke dorm. Berhubung Lab lagi sepi, Saya mau coba keluar dari lab, tanpa terbebani oleh kasus Otsukaresamadesu ke senpai.

Okeh,nanti lanjut! Jyaa…

About ni_lasha

Hai,aku nilasha. Tukang nulis, terutama saat kerjaan numpuk. Pelariannya adalah menulis. Pas menengok kerjaan yang masih menumpuk, kembali melarikan diri untuk menulis. Aku terobsesi menjadi populer, untuk novel yang belum terbukukan, untuk buku yang masih di awang-awang dan untuk puisi galau yang bersinergis dengan nuansa alam.

One comment on “Lab

  1. kang.ash
    March 15, 2013

    artikel kereeen !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: