Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Perubahan

Migrasi ke Jepang, sudah bisa dipastikan,kita akan menghadapi banyak perubahan.
Mungkin kalau perginya ke Malaysia,Thailand atau Singapura, ataupun jauhan sedikit, Kamboja (itu jauh nda siy? hehe…),tentulah perubahan yang kita hadapi gak jauh beda. Secara masih di areal kawasan bebas fiskal…(alasannya nda logis ya?xixixi)
Tapi ini, meski sesama Asia, ternyata perubahan yang saya alami selama beradaptasi di negara matahari terbit, dan terutama pada kebiasaan sehari-hari, amat sangat signifikan perubahannya.
Meski sebenarnya kasuistik, secara yang saya rasakan ini adalah hidup sebagai seorang foreigner (hehe, kirain yang jadi foreigner cuma orang bule aja, ternyata saya pun bisa saudara-saudara….), bukan sebagai turis.
Kalau dihitung-hitung, ada 10 perubahan kebiasaan yang Saya alami selama hidup di musim gugur :

1. Baju. Why? karena dinginnya cuaca disini, menurut saya, dan sebagian teman2, seumur-umur, yang namanya 7 derajat itu, nda pernah ketemu kayaknya. Hari-hari pertama datang,20 derajat (an,kayaknya), masih kuat. Lama kelamaan, nyerah juga. Teman satu program pun merasakan hal yang sama, dingin menusuk tulang. Dia siy bilangnya “hadeh, begini toh rasanya jadi ikan masuk kulkas..”. Oke deh, Saya ikan Tuna, Kamu ikan apa? (bagian terakhir improvisasi aku yaaa)
Kalau saat ini mah, 3 lapis jadi minimal. Urusan baju sebenarnya standar siy, namanya juga negeri 4 musim, dan lagi jelang winter. Tapi kan kita lagi bahas perubahan ya?
hehehe,at least, poin ini jadi no satu deh,dibandingkan yang lalin.
Oh iya, Gak hanya jumlah lapisan untuk menghadapi musim, tapi kok kayaknya selama tinggal di Jepang, Saya jadi senang utak atik baju,meski hasil akhirnya selalu masuk kategori stylish minimalis,hihi.
Cewek-cewek Jepang pinter banget utak atik model dan warna,di Indonesia,boro-boro mikirin warna, maklum deh, seragam dinas guru sekolah negeri ya nda jauh2 dari warna biru dongker. Dan harus jauh2 dari sekuriti klo pas lagi main ke mall,otherwise kita juga bakal ditanya2 pengunjung.
Teman pun ada yang sempat menyesali telah meninggalkan koleksi rok pendeknya di Indonesia.Apalagi kalau sudah lihat cewek-cewek Jepang padu padan rok pendek plus stocking, ciamik banget deh. Nah, khusus teman saya ini, memang sudah rezeki kayaknya, suatu momen saat kami mendapatkan box tak terduga berisi baju-baju seken,di tengah sibuk-sibuknya mencari baju wasiat seseorang yang tidak perlu saya sebutkan namanya, karena memang saya juga nda tahu siapa yang ngasih…woowww…ditemukanlan rok pendek putih yang merona,hm mm…..kamu tahu kan lanjutan ceritanya? atau, wakarimasen?

Tapi ada satu hal yang sangat tidak bisa saya ikuti, yaitu HIGH HEELS.Disini semua studentsnya, yang cewek pastinya, kuat banget pake high heels, jalan keliling kampus, naik sepeda, hadeh. Kalau saya sih,nda sangguuup. Semua teman2 kayaknya klo ditanya juga akan bilang hal yang sama deh. Tebak hayoo, kenapa jawaban kami sama?…karena kami sama-sama nda bawa sepatu macam begitu dari negara asal…hohoho….
Engga deng, yang pasti, kalau urusan sepatu hak tinggi, dengan sangat menyesal, Saya dan teman-teman menyatakan..”maaf”

2. Kamu tahu kan,koki cantik yang pinter banget masak itu,namanya siapa? o,iya, Farah Quinn. Nah, ternyata, selama Saya di tinggal di Jepang, Saya juga berubah jadi tukang masak. Sudah bisa di buktikan kok, tagihan gas (meski sebenarnya di gabung dengan pemanas air) milik Saya hampir 2 kali lipat dibandingkan rekan-rekan di dorm ini. Lysa, teman dari Medan, yang pinter masak itu, juga punya tagihan dengan nominal yang hampir mendekati lah.Which is mean, Saya yang sebenarnya nda pintar masak pun, jadi terbiasa mengolah bahan pangan sendiri.
Alasannya simpel, harga makanan jadi sini, MAHALL. Tapi kalau masak sendiri, jauh lebih murah. 1 porsi makanan, bisa sampai 200-300 yen, itu juga karena harga anak kampus yah. Di luaran, minimal 400yen. Oh, jadi inget kisah, waktu kami dapat transferan uang beasiswa,ceritanya siy, ingin merayakan dengan ala makan di luar, alias nda makan makanan sendiri. Boleh dong, sekali-sekali, menghibur lidah dengan makanan mahal. Nah selidik punya selidik, jadilah kami ber-4, waktu itu bareng sama teman cowok, peserta program dari Kamboja, menggenjot sepeda dengan bahagia ke restoran India. Lokasinya,jangan ditanya, karena kalau di ukur pakai putaran roda speda ya bisa sampai ribuan kali..(halah,lebayy..haha).
But, sampai di depan restoran, feeling anak kampus pun mulai merajalela. Melihat plang harga makanan, untuk daging sekian slices, 700yen. Emangnya kita mau makan daging aja? kan engga…..Masih butuh nasi,minum, side dishes, huaaa. OOh, pantes aja,nda ada parkiran sepeda di halaman restoran. Hehehe….Jadi beli nda? engga lah, kembali kami ambil langkah diam-diam,menggenjot sepeda ( dengan kebahagiaan yang sedikit tertoreh, halah, lebay ya? haha) menuju supermarket yang didalamnya ada menu takoyaki. 400 – 500 yen untuk Takoyaki, 600-700 yen untuk noddle.
Nah,berarti kan kamu bisa menghitung, kalau sehari saja bisa butuh kira-kita1000yen, kalikan saja dengan 30hari? Loh, kok hanya 30.000 siy? Wah,aku salah menghitung nih…berarti enakan makan di luar dong ya?
Hadeeh, nanti tulisannya aku perbaiki lagi deh, yang menjadi intinya adalah, kebiasaan baru Saya sekarang ini adalah jadi koki. Oh, tips dari Saya untuk kamu adalah,Jangan takut terima tantangan. Nasi gosong sudah biasa, bakwan asin juga biasa. Menu soto ayam berubah jadi bubur manado juga akhirnya sudah pernah kejadian. Yang penting, memasak sendiri akan jauh lebih hemat, meski hitungan matematika saya berantakan..Satu hal lagi, masakan sendiri akan terasa lebih memuaskan karena halal. Iyya, itu jadi alasan utama Saya, disini, berhubung Saya juga nda bisa baca kanji, sulit sulit susah untuk membedakan makanan halal atau tidak.
Maka dari itulah, motivasi Saya semakin kuat untuk menjadi seorang koki yang (tidak) handal seperti Farah Quinn.

3. Saya gemar sekali mencuci. Tapi situasi ini di dukung pleh model mencuci yang bentuknya seperti laundry system. Kita bisa mencuci di ruangan laundry, masukkan koin 100 dan 50 yen, lantas, tarrraaa……cukup tinggalkan 30 menit ( itu hitungannya vivin loh ya), Nah, kembali ke ruangan laundry,ambil, lalu jemur. Model yang cukup mudah ini membuat Saya merasakan kenyamanan dalam berbelanja, eh, maksudnya,dalam mencuci baju sendiri. Mungkin sebenarnya, karena Saya sendiri yang termasuk memakai baju sekian (banyak)layers kali yah?. Jadi produk pakaian kotor yang Saya tampilkan akan lebih banyak dibandingkan teman-teman yang lain. Yang penting, prinsip Saya adalah, lebih baik banyak baju bersih hasil cucian, dibandingkan dengan lebih banyak baju kotornya..Entah kenapa, lebih siap aja untuk ke aktivitas berikutnya…

4. Nah, aktivitas berikutnya yang Saya maksud, ada di nomer 4, yaitu menyetrika. Akhirnyaa, Saya bisa merasakan (kembali) menyetrika baju-baju yang kusut.

About ni_lasha

Hai,aku nilasha. Tukang nulis, terutama saat kerjaan numpuk. Pelariannya adalah menulis. Pas menengok kerjaan yang masih menumpuk, kembali melarikan diri untuk menulis. Aku terobsesi menjadi populer, untuk novel yang belum terbukukan, untuk buku yang masih di awang-awang dan untuk puisi galau yang bersinergis dengan nuansa alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 6, 2013 by in Nissa Maulia, Pokoknya Cerita! and tagged .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: