Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

Daily Survive versi dodol. Part 1

Part 1, “how to eat”

Nah, klo cara kita makan, sebenarnya siy, itu terserah kalian.  Mau pakai tangan boleh, pakai sendok garpu boleh, nda pakai dua-duanya juga silahkan. Mau sambil tiduran juga tidak ada yang melarang, hehehe…

Sebelum bertolak dari Indonesia, hidup saya diwarnai oleh browsing apa saja tentang Jepang. Salah satunya adalah hal makanan. Salah duanya adalah sharing ke teman. Nah, dari kedua aktivitas tersebut, akhirnya saya dapat gambaran umum ( yang di kemudian hari, gambaran ini benar-benar u.m.u.m,alias nda cukup alias sedikit bangeeeet).

Sesampainya di kota pelajar ini ( Higashi Hiroshima adalah kota kecil yang memang ditujukan pembangunannya untuk mensupport aktivitas pendidikan Kampus Hiroshima University, semirip dua mirip dengan kota Depok tahun 97 yang dikembangkan untuk mendukung aktivitas pendidikan lingkup kampus), menjalani hari-hari sampai dengan bulan ke-4, analisa saya semakin kuat, bahwa urusan makan adalah urusan yang tidak bisa di anggap enteng. Alasannya sederhana banget, beli makanan jadi di Jepang itu termasuk kategori mahal, sementara saya yakin, kita semua berharap, uang beasiswa yang diberikan, masih bisa disisihkan untuk ditabung. Ya kan? Ya kan?

Ada satu lagi, di Jepang ini, masyarakatnya doyan banget memasukkan aneka produk olahan sake dan pork, yang Saya pribadi, tidak bisa menikmati dua bahan tersebut. Produk apapun, coklat,kue, minyak soya, hampir semua makanan dan minuman,bila kita berhati-hati memikirkan ingredient nya, bisa jadi masuk kategori yang tidak bisa dinikmati.Jadilah Saya men”survive”kan diri Saya untuk menjalani hari-hari di Jepang dengan how to eat versi baru,versi -anak kos.yang.nda.bisa.masak.namun.ingin makan.enak.dan.halal.tanpa.harus.keluar.uang.banyak-  :p

1. Jadilah koki untuk diri sendiri. Iya, jadi tukang masak itu wajib. Terutama, masak bento untuk lunch. Saya memulai jadi tukang masak di hari ke-3 tiba di kamar. Belanja perlengkapan dapur plus menerima warisan kitchen set (semisal, centong, mangkok, parutan, baskom, dll) dari mahasiswa indonesia senior, belanja beras  dan bahan pokok di toko terdekat, beres-beres kamar, nah, setelah itulah saya menjalani hidup sebagai koki “handal”. Harus bisa masak? iya, harus! Harus pintar memasak? tidak harus.  Motto saya adalah, memasak untuk diri sendiri,sportif mengakui cita rasa, menawarkan ke teman2 bila hasil racikan berhasil, tidak heboh saat makan ketika produknya gagal olah.

2. Bawalah Happy Call. Kamu tahu happy call kah? itu loh, dobel pan teflon yang buatan korea, dijual melalui TV. Harganya waktu saya beli tahun 2009, 770ribu. Sekarang mungkin sudah 500ribu. Warnanya merah, besar,berat, setahu saya, beratnya 2,3 Kg. Saya ingat saat masih di Jakarta, bingung memikirkan aturan packing bagasi koper, sempat berpikir untuk meninggalkan si happy call di  rumah. Teman-teman mempromosikan bahwa di Jepang pun nantinya akan ada toko 100yen (yang kemudian sekarang saya kenal sebagai DAISO) dimana produk kitchen set apapun bisa di dapatkan di tempat tersebut. Kakak juga turut berkomentar “NGapain bawa berat-berat siy, toh nanti di Jepang kamu bisa beli, jangan terlalu irit-irit niiis”…Klepek klepek klepek, bagaimana dong? Sudahlah, akhirnya happy call saya bawa juga, plus kardusnya,dan beraat…. Dan ternyata, amat sangat berguna. Di kota ini saya belum menemukan produk dobel pan seperti si happy call. Wow..nice decision. Bisa untuk masak nasi, panggang, menumis, apa saja bisa dilakukan di happy call. Saya memang membeli panci dan alat-alat masak tambahan,tapi happy call ini benar-benar jadi barang kesayangan saya, khusus urusan memasak. Tidak perlu beli microwave ataupun oven, mencucinya pun, gampang.

3. Bawa bumbu dapur dari indo, yang sifatnya kering yah. Contoh, cabe kering,kunyit, ketumbar. Saya juga bawa bumbu pasta yang instant, ada yang kategori bumbu merah,putih,kuning,aduh lupa, 1 lagi apa ya?  Jujur, bumbu instant ini, kalau di rumah, malas banget menyentuhnya,apalagi mie instant. Tapi ini termasuk kategori darurat, bumbu dapur kering, bumbu instant,indomie, tolak angin,obat2an,termasuk tolak angin cair, saos sambel tomat kecap…memang, 2 koper besar saya, porsi makanan dari indonesia termasuk memakai ruang yang besar. At least, worth it juga..Meski, kemudian, ternyata disini juga ada mahasiswa indonesia yang punya toko khusus makanan halal dan bumbu2 tropis, (hehehe…jauh2 bawa, ternyata di tempat tujuan sudah tersedia). Oh, saya mau cerita, bubuk cabe kering yang saya bawa, kalah jauh sama teman teacher training yang dari Medan. Pedasnya mantaaaap….

4. Durasi memasak, seimbangkan dengan waktu yang anda miliki. Untuk memasak, kita butuh waktu, mencuci, mengiris, mengolah. Nah, waktu itu yang harus diatur sedemikian rupa. Contoh kasusnya, kursus bahasa dimulai pada jam 9.30, bangun pagi, berarti sejak dimulainya hari,sudah harus siap-siap memasak persiapan sarapan pagi dan makan siang. Ada teman saya yang senang memasak persatu porsi, masak nasi satu porsi, lauk satu porsi. Tapi ada juga teman saya yang kemudian beralih dengan modus, memasak nasi dan lauk pauk dengan porsi banyak, kemudian tinggal menghangatkan.

About ni_lasha

Hai,aku nilasha. Tukang nulis, terutama saat kerjaan numpuk. Pelariannya adalah menulis. Pas menengok kerjaan yang masih menumpuk, kembali melarikan diri untuk menulis. Aku terobsesi menjadi populer, untuk novel yang belum terbukukan, untuk buku yang masih di awang-awang dan untuk puisi galau yang bersinergis dengan nuansa alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 6, 2013 by in Nissa Maulia, Pokoknya Cerita!, Tips and 'how to' and tagged , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: