Teacher Training To Japan

ONE HEART, ONE SPIRIT, TO INSPIRE

ALIF-BA-TA, LIK MARDI, DAN “SORRY, I AM NOT A MUSLIM…”

Di cerita saya terdahulu, saya sempat menyatakan ketertegunan saya tentang beberapa keinginan ‘omong kosong’ di masa lampau saya yang ternyata bisa jadi tidak kosong. Allah SWT memang Maha dari segala Maha…
Sebelum berangkat, sebagaimana dipesankan Mas Wahyudi, saya ingin menceritakan etos hidup orang Indonesia dalam sebuah forum resmi pada orang Jepang. Alhamdulillah, Prof. Yamashita meminta saya untuk mengisi Exchange Language Program dan kemarin sudah jalan dengan peserta adalah 2 orang, Michiko Watanabe, mahasiswi jurusan Hukum, dan satu lagi kebetulan tidak bisa datang waktu itu. Tapi, bukan itu saja yang membuat saya selalu ternganga dengan kebaikan-Nya. Allah SWT membuat saya selalu berteriak ‘Eureka..!’ dengan kejutan-kejutan-Nya…

Eureka pertama:
Saat kelas 4 SD, saya baca buku tentang Eskimo Kanada dan saya bergumam dalam hati, “Hm.. gimana ya rasanya tidur di igloo?” Itulah, kata ‘eureka’ saya yang pertama terlontar di atas bus Sumber Kencono saat saya mendapat email di bulan Agustus dari Miss Nami Mabuchi bahwa saya diterima di Hokkaido University. Dan 4 minggu lagi, semua rumah di Hokkaido ini adalah igloo..! Apalagi di Asahikawa nanti, yang kata Sudo Sensei pernah minus 42 derajat Celcius..
Eureka kedua:
calon jawaban atas rasa penasaran saya tentang Pulau Sakhalin, Rusia (silakan lihat status FB saya pada tanggal 5 Oktober, jika sempat).
Baiklah, saya tidak akan ngomong banyak tentang Eureka 1 dan 2, karena saat ini saya masih terkesima dengan Eureka 3 dan 4 tadi malam.
Eureka ketiga saya adalah tentang calon jawaban atas keinginan naik haji dari Jerman.
Tahun 2002 saya menyampaikan kata-kata ‘konyol’ (soalnya waktu itu miskin banget deh secara finansial) tersebut dengan nada guyon (tapi berharap beneran.. hihi..) dalam diskusi lepas bersama teman2 mahasiswa se-pengajian. Ternyata, tadi malam saya ditunjukkan kebesaran-Nya lagi..! Meskipun itu sangat sulit diwujudkan dengan status saya yang sekedar trainee 1,5 tahun di sini, setidaknya Allah SWT menunjukkan ‘ini lho caranya nek pingin..’ pada saya dan (colek haloo..!) Mbak Lysa Sagala, sesama trainee di Hiroshima University yang kebetulan terbersit keinginan ‘aneh’ yang sama.
Tadi malam, sambil menunggu rekan-rekan lain datang untuk pengajian rutin Jumat malam di Masjid Sapporo, kami mendengarkan cerita yang penuh makna dari Pak Sahat Situmorang, seorang eksekutif muda, pengusaha ban recycle (bekas) untuk diekspor ke Dubai, Malaysia, dll. Beliau menikah dengan wanita Jepang, dan pada umur 28 tahun beliau sudah haji (2 tahun yang lalu). Kata beliau, tidak perlu antri untuk haji dari sini karena beliau bersama Pak Lubis dan Pak Hari waktu itu melakukan pemrosesan hanya 2 bulan dari keberangkatan. Kami yang ada di situ pun akhirnya jadi tahu tentang biaya, proses, persiapan dan yang pasti cerita pengalaman rohani saat di Masjidil Haram. Saya sungguh ‘excited’ mendengarnya, meskipun menuju ke sana rasanya juga belum mungkin dengan status saya di program ini. Allahu rohiim…
Dan Eureka keempat adalah yang sungguh mengejutkan terjadi  tadi malam..!
Sebelum saya berangkat ke Jepang, saya menyempatkan pamitan ke orang2 desa asal saya. Tujuan pertama saya adalah 2 guru ngaji saya di waktu saya kecil: Mbah Modin Prawoto dan Lik Mardi.
Mbah Modin saat ini sudah tidak jadi modin lagi karena beliau sudah agak sakit2an dan sepuh, dan Lik Mardi adalah seorang petani sederhana dan guru ngaji Hijaiyyah dan Fiqih-Tajwid-Akhlaq saya di surau kayu kami.
Saat saya bertemu Mbah Modin, saya minta didoakan agar saya bisa mengajarkan huruf Hijaiyyah kepada seorang Muslim Jepang, karena secara linguistik itu pasti sangat menantang. Kepada Lik Mardi, saya pun menyampaikan hal yang sama karena saya juga ingin bisa dikenang sebagaimana beliau berdua selalu ada dalam rasa syukur saya.
Dan terjadilah, tadi malam sebelum bapak2 yang lain datang, 2 jam sebelum jam pengajian dimulai saya sudah ke masjid terlebih dahulu. Bukan apa2, hanya karena lontang-lantung saja tidak ada kerjaan, saya memutuskan lari ke masjid (hehe.. jahat banget ya..).
Jamaah sudah selesai, dan sudah sepi, akhirnya saya sholat sendiri. Selesai sholat, saya duduk2 saja. Lalu datanglah seorang pemuda Jepang mengucap salam. Sedikit basa-basi, akhirnya kami berkenalan, tapi di sini saya rasa tidak etis untuk menyebut namanya. Sebagai muslim, saya sungguh merasa terharu melihat orang Jepang asli akan sholat.
  • “You want to pray?”  tanya saya.
  • “Ah, yes,” jawabnya sambil melepas sepatu.
  • “Okay, please do, I’ll be waiting for some convesation with you if you are not busy then. Emm… by the way, how long have you become a Muslim?” tanya saya karena tidak bisa menahan penasaran tentang keislamannya.
  • “Oh.. sorry, I am not a Muslim. I just want to study about Islam..” kata dia.

GLOODDHAXZQXZ…!! Ternyata dia bukan Muslim..!!

“Oh, I am sorry,” kataku kaget.
Saya lupa, fenomena seperti ini adalah cukup biasa di luar negeri yang non-Muslim. Saya lalu jadi merasa seperti tertampar: Mereka bukan muslim tapi belajar Islam, lha kita yang Muslim malah tidak serius mempelajarinya. Hmm.. jadi ingat saya sendiri dan murid2 saya yang aduhai-bikin-pusingnya di Ngawi sana…
Selesai dia sholat, kami pun ngobrol. Ya Allah, ini kesempatan langka yang Engkau hadiahkan kepada saya..! Saya berbicara sebisa saya tentang menjadi seorang Muslim, kewajiban2nya dan juga tentang cerita pernikahan saya dengan istri yang ‘wow’ yang hanya berproses 2 minggu dari pertemuan pertama hingga ijab kabul.
  • “Can you show me some sites to study the preach when I do sholat?” tanyanya kemudian.

Ya Allah, jadi ternyata dia ini sholatnya hanya gerakan. Belum ada bacaannya… Lalu saya sedikit kasih tahu dia tentang Al-Fatihah, bacaan ruku’ dan beberapa hal lain.

  • “So we must understand Arabic to pray?” tanyanya lagi.
  • “Yes, we must read all in Arabic. The Koran (Qur’an) is in Arabic. You know, Arabic letters are just a little bit similar to Hiragana adnd Katakana letters. We have alif-ba-ta…… and we have fathah-kasroh-dhomah to make the vocal. Let me write them to you…”

Dan dia pun menyodorkan buku catatannya, lalu saya menulis semua huruf Hijaiyyah dan beberapa contoh penggunaan fathah-kasroh-dhomah-sukun dalam beberapa kata.

Dan pada satu detik di jutaan detik itu, saya tertegun membayangkan tiga wajah: Mbah Prawoto, Lik Mardi, dan Pak Murtoyo (pemimpin Yayasan Harapan Ummat, guru ngaji saya waktu SMA hingga sekarang..)
Saya meringis, kenapa saya tak pernah tergerak jadi guru ngaji anak2 kecil di Ngawi?
Saya meringis senyum terima kasih, karena Allah SWT telah menciptakan suasana lontang-lantung buat saya tadi malam, lalu mempertemukan saya dengan ayat-ayat-Nya….
Life is an art of being lontang-lantung bin mondar-mandir …
Ya Allah, jadikan dia saudara kami segera…
phoe
20/10/2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 21, 2012 by in phoe prehantoro, Pokoknya Cerita! and tagged , .
TT 2013 Returning HomeMarch 25th, 2015
Jalan-jalan, makan-makan, foto-foto... Eh, Lulus!!!
TT 2014 Returning HomeMarch 30th, 2016
We will always cherish the lesson you have thought us

Kategori Artikel

Arsip

%d bloggers like this: